Minggu, 19 Januari 2020

10 Film Korea Terbaik

Niatnya pengen bikin thread di twitter, berhubung masih amatir jadi mau latihan di sini dulu aja.

Beberapa kali bikin review tentang film-film hollywood terbaik dari tahun ke tahun. Sekarang pengen nge-review film-film dari negeri ginseng alias Korea. Kalo diliat dari teknologi mungkin Korea masih ketinggalan jauh dari Amerika atau negara Eropa lainnya, tapi dari segi ide cerita, Korea tidak kalah dari film-film hollywood, selalu menampilkan sesuatu yang berbeda. Akhir-akhir ini saya sering menonton beberapa film korea yang menurut saya mind blowing dengan plot twist dan ending yang tidak biasa, selain itu selalu ada pesan tersendiri yang hendak disampaikan kepada penonton. Kali ini saya akan mengulas film-film korea dari berbagai genre, berikut top ten film korea yang rekomen untuk ditonton versi saya :)

10. Forgotten (2017)
Film drama keluarga ini sangat misterius dan menegangkan, disutradai dan ditulis naskahnya oleh Jang Hang Jun dan diperankan oleh Kang ha neul sebagai Jin seok, seorang adik yang memiliki hipersensivitas (kecemasan berlebih) yang mendapati Kakak laki-lakinya diculik oleh sekelompok orang, namun setelah 19 hari sang kakak kembali dan tidak mengingat kejadian selama diculik. Jin seok merasa ada yang berubah dengan sang kakak, Yoo seok (Kim mo yeol) pasca penculikan tersebut.

9. Kim Ji Young, Born 1982 (2019)
Film ketiga dimana Gong Yoo dan Jung yu mi dipasangkan setelah Silenced dan Train To Busan, kali ini mereka berperan sebagai pasangan suami istri. Kim ji young, born 1982 diadaptasi dari novel dengan judul yang sama hasil karya Cho nam joo. Novelnya sendiri sedikit kontroversi karena mengangkat isu-isu tentang perempuan di Korea sehingga filmnya pun sempat digosipkan batal tayang, tetapi pada akhirnya filmnya rilis november 2019. Dikisahkan Kim ji young, seorang wanita yang berhenti bekerja dan sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga, tanpa disadari ia mengalami depresi berat karena beberapa kejadian yang terjadi di masa lalu dalam hidupnya, dan orang yang pertama kali menyadari hal itu adalah suaminya (Gong yoo), suaminya merasa pada suatu waktu Kim ji young menjadi pribadi lain yang tidak dikenalnya. Premisnya sederhana sekali tetapi jika diresapi, pesannya sangatlah penting, dan saya yakin ini bisa terjadi pada perempuan dari berbagai belahan dunia, tidak hanya di Korea.

8. Mother (2009)
Bagi yang suka film dengan plot twist "ko bisa sih?" saya sarankan untuk menonton Forgotten dan Mother. Ini film drama thriller kedua karya Bong joon ho yang saya tonton, disutradai dan ditulis langsung oleh Bong joon ho dan film ini mendapatkan beberapa penghargaan bergengsi namun saat itu gagal sebagai best foreign film di Oscar. Dikisahkan Seorang ibu bernama Hye ja (Kim hye ja) yang memiliki profesi petani ginseng dan memiliki keahlian akupuntur, hidup dengan seorang anak laki-laki satu-satunya, Doo joon (Won bin) yang memiliki keterbelakangan mental. Suatu hari Doo joon dijadikan tersangka pembunuhan seorang anak sekolah, ibunya yang merasa tidak mungkin seorang anak cacat mental melakukan pembunuhan, mati-matian membebaskan anaknya, Doo joon.

7. Ahjussi (2010)
Film yang memiliki judul asing The Man From Nowhere disutradai dan ditulis naskahnya oleh Lee jeong beom. Film drama action yang diperankan oleh the one and only Won bin, aksinya tidak kalah dengan Keanu Reeves dalam John Wick atau Iko Uwais dalam The Raid ini berhasil mendapatkan pujian dari berbagai kritikus film dalam maupun luar negeri. Diceritakan Cha tae sik seorang tukang gadai yang misterius dan pendiam tinggal di apartemen kumuh dengan bertemankan seorang gadis cilik Jung so mi (Kim sae ron). So mi sendiri seorang anak yang polos dan naif beribukan seorang pecandu narkoba dan pekerja PSK, so mi selalu menjadi vitamin bagi tae sik meski tae sik berpura-pura acuh padanya. Suatu hari karena kesalahan ibunya, so mi dan sang ibu diculik oleh seorang pebisnis narkoba. Tae sik yang misterius namun memiliki keahlian bela diri yang luar biasa tidak hanya tinggal diam saat melihat teman satu-satunya diculik untuk diperdagangkan organ tubuhnya.

6. Swing Kids (2018)
Film drama musikal ini berlatar perang Korea Utara dan Korea Selatan dengan sutradara Kang hyeong cheol dan naskahnya ditulis oleh aktor Jung woo sung. Menampilkan tap dance, film ini berhasil membawa tema baru dalam perfilman korea. Film ini menceritakan tentang mimpi dan idealisme, diperankan oleh Do kyungsoo sebagai Roh kisoo, tentara Korut yang menjadi tahanan di Korsel, ia amat sangat menyukai tap dance, sebuah tarian yang berasal dari Amerika, seperti yang kita tahu saat itu Amerika adalah musuh bebuyutan Korut karena menjadi negara yang berkoalisi dengan Korsel dalam perang melawan Korut, itu artinya segala sesuatu yang berbau Amerika "haram" hukumnya bagi Korea Utara. Do kyungsoo sukses memerankan Roh kisoo yang mahir melakukan tap dance dan beraksen bahasa korea utara. Do kyungsoo merupakan idol dari band kenamaan EXO, ia berhasil memecah streotype mengenai idol aktor saat debut pertama kali sebagai aktor, dimana saat itu seorang idol dipandang sebelah mata karena sekaligus menjadi seorang aktor. Debut pertamanya dalam drama It's Okay That's Love bersama aktor aktris papan atas Jo in sung dan Kong hyo jin yang berperan sebagai "teman khayalan" Jae yeol yang memiliki penyakit skizofrenia, berhasil menyabet penghargaan sebagai aktor pendatang baru, dibarengi dengan film pertamanya Cart juga sukses membawa dia menjadi aktor yang perlu dipertimbangkan. Perlahan namun pasti karir aktingnya terus melonjak setelah memerankan seorang remaja pembunuh berdarah dingin dalam serial Hello Monster, kemudian film My Annoying Brother bersama Cho jong seok, Pure Love, Room no.7, film seri Along With The Gods, film animasi Underdog, film pendek Be Positive, dan terakhir proyek sebelum ia pergi wamil adalah drama 100 Days My Prince. Ia selalu mengambil peran yang berbeda dan sedikit ekstrim dalam setiap proyek aktingnya, sehingga kini ia lebih dikenal sebagai aktor ketimbang idol.

5. Along With The Gods: The Two Worlds (2017) dan Along With The Gods : The Last 49 Days (2018)
Saya sangat suka sekali dengan film drama fantasi garapan Kim yong hwa ini, karena bercerita tentang kehidupan setelah kematian, walaupun sebenarnya kepercayaan ini diambil dari agama buddha, namun pada intinya semua orang kelak akan mempertanggungjawabkan atas perbuatan baik dan buruk yang dilakukan selama hidup di dunia. Film ini diambil dari komik web karya Joo ho min. Di seri pertama ada Ha jung woo, Ju ji hoon dan Kim hyang gi sebagai 3 malaikat yang mengantarkan Kim ja hoong (Cha tae hyun) dalam menghadapi beberapa tahapan persidangan di akhirat, Kim ja hoong meninggal pada saat bekerja sebagai pemadam kebakaran. Di seri kedua masih dengan 3 malaikat yang sama, namun kali ini mereka mengantarkan Kim so hoong (Kim dong wook) yaitu adik dari Kim ja hoong yang di seri pertama, ia meninggal secara tidak sengaja saat melakukan tugas militer. Di seri ketiga proses syuting akan dimulai tahun 2021 yang direncanakan (jika tidak berubah) akan diperankan oleh Do kyungsoo sebagai anggota militer yang memiliki cacat mental, dia sendiri sempat tampil di seri pertama dan kedua namun perannya tidak begitu banyak tapi akan keterkaitan dengan seri ketiga nanti. Teknologi yang digunakan memang tidak semulus dan secanggih film hollywood, tapi nilai yang lebih penting dari itu adalah pesan dari film tersebut.

4. Okja (2017)
Satu lagi, film aksi petualangan karya Bong joon hoo, naskahnya hasil kerja sama Bong joon hoo dan John Rohnson. Film kerja sama Korea Selatan dan Amerika ini diperankan oleh Ahn seo hyun, Byun hee bong, Steven Yeun, Tilda Swinton, Paul Dano, Lily Collins dan Jake Gyllenhaall. Film ini sedikit unik karena berkisah seorang gadis 14 tahun, Mija dengan peliharaannya bernama Okja, seekor hewan raksasa menyerupai babi-anjing-kudanil yang dititipkan perusahaan pangan yang dipimpin oleh wanita bernama Lucy Mirando. Setelah 10 tahun Okja harus dikembalikan ke Mirando Coorporation untuk dijadikan produk pangan (sosis). Tidak terima, Mija pergi menyusul Okja dari Seoul ke Amerika untuk menyelamatkan peliharaannya itu, dengan mendapatkan bantuan tak terduga dari beberapa pihak, terkuaklah betapa jahat dan liciknya Mirando Coorporation dalam menjalankan perusahaannya. Sayangnya saat itu film ini tidak masuk ke Indonesia, hanya bisa dinikmati lewat netflix.

3. Taegukgi (2004)
Film bertema perang yang berjudul asing The Brotherhood War ini memiliki durasi yang sedikit panjang yaitu 2,5 jam, tapi sangat worthy karena setiap scene-nya sangat sayang untuk dilewatkan. Disutradai Kang je gyu, mengambil latar 1950 saat pecahnya perang saudara antara korut dan korsel, dikisahkan dua bersaudara, Jin tae (Jang dong gun) dan Jin seok (Won bin) dipaksa ikut berperang. Jin tae berusaha mati-matian menjadi pasukan perang yang penuh pengabdian. Seiring berjalan waktu, Jin tae semakin terbuai dengan penghargaan, pujian dan jabatan yang didapat sehingga membuat adiknya merasa kakaknya telah berubah, padahal Jin tae melakukan itu semua demi adiknya agar bisa pulang ke rumah dan mengorbankan dirinya saja yang ikut berperang. Saat perang semakin parah, Jin tae dan Jin seok terpisah sehingga Jin tae berpikir Jin seok telah mati terbunuh, padahal Jin seok sendiri masih hidup. Karena dendam dengan negara sendiri yang telah membuat adiknya merasa terbunuh, akhirnya Jin tae membelot ke arah musuh dan melawan negaranya sendiri.

2. Snowpiercer (2013)
Film pertama Bong joon hoo yang membuat saya jatuh hati kepada sutradara satu ini. Film sci-fi action berbahasa asing pertama bong joon ho yang ia tulis bersama Kelly Masterson merupakan adaptasi dari novel grafis Perancis Le Transpeneige. Tidak tanggung-tanggung ia menggandeng Chris Evans sang Captain Amerika sebagai pemeran utamanya, selain itu ada Song kang hoo, Tilda Swinton, Octavia Spencer, Go ah sung dan Jamie Bell. Snowpiercer ini bercerita tentang kehidupan tahun 2030 dimana ekosistem kehidupan hancur karena sebuah eksperimen pada tahun 2014, saat global warming semakin parah, para ilmuwan berhasil membuat formula untuk mengatasi panas bumi. Cuaca panas berhasil terpecahkan, namun bumi malah membeku, dan keadaan semakin memburuk dan tidak bisa dikendalikan. Tidak banyak manusia yang selamat, sekitar 2000 manusia dari berbagai negara dan ras yang selamat diangkut dalam sebuah lokomotif (kereta) bernama Snowpiercer, dimana jalurnya terus menerus mengelililingi dunia dan tidak tahu sampai kapan kereta tersebut akan berhenti. Masalahnya adalah manusia yang hidup di dalam kereta tersebut dikelompokkan berdasarkan kasta atau status sosial. Mereka yang miskin akan menempati gerbong kereta paling belakang yang sumpek dan kumuh, hanya mengkonsumsi protein berupa agar-agar yang diketahui bahwa makanan tersebut terbuat dari kecoa. Sedangkan mereka yang kaya, akan menempati kereta paling depan, lengkap dengan fasilitas mewah dan makanan enak layaknya hotel bintang lima. Suatu hari, Curtis (Chris Evans) yang menempati gerbong paling belakang merasa sudah tidak tahan dengan ketimpangan sosial yang terjadi dalam kereta tersebut, dia memutuskan melakukan pemberontakan bersama teman-teman lainnya yang menempati gerbong paling belakang. Mereka menerobos maju melewati setiap gerbong untuk mencapai gerbong paling depan, namun usaha mereka tidaklah mudah, karena setiap gerbong dijaga dengan ketat lengkap dengan para penjaga yang kejam dan bengis. Menurut saya, film ini termasuk dalam film terbaik sepanjang masa, dan siapa sangka bahwa film ini disutradai oleh orang Asia yang berasal dari Korea Selatan, yang kita tahu, film ini 90% berbahasa inggris dan Bong joon ho tidaklah fasih berbahasa inggris, namun dengan keterbatasan tersebut tidak menghalanginya dalam menghasilkan karya luar biasa, karena menurut saya sulit sekali menjelaskan sesuatu yang detail dengan perbedaan bahasa. So, jika memiliki waktu tontonlah film ini.

1. Parasite (2019)
Another masterpiece from Bong joon ho. Saat ini, pria ini adalah center of the world, mahakarya terbaik yang dimiliki Korea Selatan, bahkan mungkin pria yang paling banyak diburu oleh filmmaker dari berbagai penjuru dunia untuk diajak bekerja sama. Satu kalimat yang saya ingat saat dia ucapkan dalam kemenangannya sebagai sutradara terbaik dan film asing terbaik dalam Golden Globe kemarin adalah "once you overcome the 1-inch talls barrier of subtitles, you will be introduced to so many more amazing films", seperti yang kita tahu, pada umumnya penonton asing tidak menyukai film-film dengan menggunakan subtitle, namun melalui Parasite, film yang 100% berbahasa korea ini sukses memecah streotype tersebut, film ini membuat decak kagum para penonton dan kritikus film dari berbagai negara, dan kini filmnya mendapat 6 nominasi dalam The Oscar. Entah dari mana Bong joon ho mendapat ide cerita untuk film ini, cerita yang tidak biasa mengenai dua keluarga dengan status sosial berbeda jauh, miskin dan kaya. Cerita yang menggambarkan sifat dan watak manusia yang bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari, dimana si miskin menghalalkan segala cara untuk bertahan dan meningkatkan kehidupan mereka, dan yang menjadi target adalah si keluarga kaya. Adapun si keluarga kaya yang hidup bahagia dalam kemewahan, tidak serta merta selalu mulus dalam menjalankan kehidupannya. Si keluarga kaya ini selalu memandang rendah siapapun yang kehidupannya di bawah mereka, namun pada dasarnya si keluarga kaya inipun sangat tergantung kehidupannya dengan si keluarga miskin tersebut, di sinilah terjadi suatu hubungan yang sebenarnya saling menguntungkan bagi kedua keluarga tersebut. Para cast Parasite ada Song kang ho, Park so dam, Choi woo shik, Jang hye jin, Lee sun kyun dan Cho yeo jong. Song kang ho sendiri seperti anak emas bagi Bong joon ho, dimana Parasite adalah film keempat Song kang hoo dengan sutradara Bong joon ho setelah Merories Of Murder, The Host dan Snowpiercer.

Bagi yang ingin menambahkan list film korea bagus lainnya bisa diterima, karena bagus tidaknya film itu hanyalah tentang selera.

감사합니다, 아녕 ~

-A-


Minggu, 11 Maret 2018

Hey Movie Freak



Hey movie freak, here they are top five movies in 2017 yang menurut saya wajib untuk ditonton, let's counting down.

5. Coco
Film animasi 3D disney pixar ini baru saja menjadi best animation dan best original soundtrack yang berjudul "Remember Me". Diproduseri oleh Lee Unkrich dan disutradai oleh Darla K Anderson. Yang menarik, judul film ini diambil dari nama nenek buyut si pemeran utama, bukan nama si pemeran utama sendiri. Mengambil kisah berlatar Mexican culture, diceritakan seorang anak berumur 12 tahun yang bernama Miguel Rivera (Anthony Gonzales) yang sangat menyukai musik, sayang, bakatnya sama sekali tidak mendapat dukungan dari keluarganya. Bagi keluarganya, musik adalah kutukan. Jauh, jauh sekali sebelum Miguel lahir, kakek buyut Miguel adalah seorang musisi, dia meninggalkan nenek buyutnya, Imelda Rivera dan putrinya yang bernama Coco (Ana Ofelia Murguia) hanya untuk mengejar karir musiknya. Dari sejarah silsilah keluarganya itulah, mengapa segala jenis nyanyian dan alat musik 'diharamkan' dalam keluarganya. Tidak putus asa, secara diam-diam Miguel mencoba peruntungan untuk membuktikan bakat musiknya di acara Día de muerto yaitu ajang pertunjukan bakat untuk memperingati orang-orang yang telah meninggal. Secara tidak sengaja, niatnya diketahui oleh sang nenek, Elena Rivera, yang membuatnya marah dan menghancurkan gitar satu-satunya yang dimiliki Miguel. Dengan nekat, Miguel tetap pergi ke acara Día de muertos dengan atau tanpa gitarnya, tiba di acara, dia tidak berhasil mendapatkan gitar pinjaman yang mengharuskan si peserta tampil dengan memainkan instrumen musik. Muncullah niat dimana ia akan mencuri gitar Ernesto de la cruz di pemakamannya. Ernesto de la cruz adalah musisi kebanggan Mexico yang berjaya di masa Imelda Rivera (nenek-nenek buyut Miguel) hidup dan juga yang menjadi panutan Miguel dalam bermusik selama ini. Ketika Miguel masuk ke makam Ernesto de la cruz, dia menemukan gitar milik Ernesto yang di pajang di pemakamannya dan gitar yang ada di foto milik nenek Imelda bersama kakek buyutnya yang sedang memegang gitar memiliki kemiripan, bukan hanya mirip, tetapi gitar itu memang benar-benar gitar yang sama. Miguel sendiri belum pernah melihat wajah kakek buyutnya sendiri, karena satu-satunya foto yang dipajang di ofendra keluarganya wajah kakek buyutnya disobek. Dari gitar itulah, Miguel menyimpulkan bahwa kakek buyutnya adalah Ernesto de la cruz. Setelah mencuri dan memetik gitar tersebut, tiba-tiba Miguel jadi tidak terlihat oleh orang-orang di sekitar, ia tersesat di dunia arwah. Untuk kembali ke kehidupan nyata, Miguel harus meminta restu dari keluarganya yang sudah meninggal, di dunia arwah dia bertemu nenek Imelda, ketika nenek Imelda akan memberi restu dengan syarat dia harus melupakan mimpinya sebagai musisi, Miguel menolak dengan alasan dia akan meminta restu dari Ernesto de la cruz, yang ia anggap sebagai kakek buyutnya agar ia bisa terus bermain musik, sayangnya perjalanan menemui Ernesto de la cruz tidaklah mudah, dengan bantuan Hector (Gael García Bernal), teman barunya di dunia arwah,  ia melakukan petualangan untuk menemui Ernesto de la cruz agar dapat pulang kembali ke dunia nyata sebelum matahari terbit, karena jika tidak, dia akan lenyap selamanya di dunia nyata. Film ini memiliki twist plot yang bagus, dimana di tengah-tengah cerita bisa terjadi hal yang tidak kita pikirkan sebelumnya. Selain sangat lucu dan menghibur, film inipun sangat menyentuh.


4. Three Bilboards Outside Ebbing, Missouri
Film ini disutradai, diproduseri sekaligus ditulis naskahnya oleh Martin Mcdonagh. Film drama komedi kriminal ini masalah sebenarnya hanya terletak di dua tokoh utamanya yakni Frances Mcdormand dan Woody Harrelson, tetapi dari masalah kedua tokoh tersebut cerita berkembang menjadi menarik. Bersetting di sebuah kota Ebbing, Missouri, seorang ibu tunggal yang kuat dan tangguh Mildred Hayes yang diperankan oleh Frances Mcdormand (She's won for best actress in Oscar) masih merasa kesal dengan kepolisian setempat yang masih belum bisa mengungkap pelaku kematian anaknya Angela (Kathryn Newton) yang diperkosa kemudian dibakar hidup-hidup. Selama tujuh bulan kasus tersebut belum mengalami kemajuan, bahkan untuk menemui titik terang si pelakupun masih absurd. Mildred marah dan menyalahkan Bill Willoughby (Woody Harrelson) selaku ketua polisi yang dirasa tidak becus dalam mengungkap kasus tersebut, akhirnya Mildred memutuskan untuk menyewa tiga papan reklame kosong yang berderet di perbatasan kota tempat tinggalnya. Di papan billboard pertama Mildred menuliskan kalimat "RAPED WHILE DYING", selanjutnya di papan billboard kedua bertuliskan "AND STILL NO ARREST" kemudian di papan billboard ketiga "HOW COME, CHIEF WILLOUGHBY?". Jelas iklan tersebut sangat menganggu seisi kota, terutama Bill selaku ketua polisi, karena dengan terang-terangan Mildred mengarahkan iklan tersebut untuk Bill. Di sisi lain, Bill sedang sekarat, dia menderita kanker pankreas dan tidak tahu berapa lama lagi bisa bertahan, masyarakat sangat menyayangi Bill karena dianggap sebagai ketua polisi yang berdedikasi tinggi untuk kotanya, itulah yang membuat seisi kota marah dan mencemooh Mildred dan anak laki-laki nya, Robbie (Lucas Hedges), Mildred dianggap tidak memiliki perasaan terhadap orang baik yang sedang sekarat. Akibat perbuatannya, Mildred mengalami berbagai teror dan ancaman dari orang-orang sekitar, meski begitu, Mildred tetap pada pendiriannya, ia merasa kemarahannya lebih besar dibanding rasa simpatinya terhadap Bill. Bill sendiri bukan tidak mau menolong Mildred, hanya saja ia merasa dirinya sudah tidak sanggup lagi mengurusi pekerjaannya karena penyakit yang dideritanya, dan ia sudah berkali-kali menyampaikan itu secara baik-baik kepada Mildred. Klimaks terjadi saat Bill bunuh diri dan teror terhadap Mildred semakin menjadi-jadi, opsir Jason Dixon (Sam Rockwell) lah salah satu yang gencar melakukan ancaman terhadap Mildred, karena Dixon adalah partner kerja Bill semasa hidupnya. Bagaimana endingnya? Apakah si pelaku tertangkap? Apakah papan reklame yang Mildred sewa membuahkan hasil? Unpredictable jawabannya (biar penasaran). Film ini penuh dengan kata-kata umpatan kasar, bahkan bisa dikatakan hampir seluruh dialog pasti diselipkan umpatan kasar. Anehnya, kalimat-kalimat kasar tersebut seperti menggambarkan begitulah cara mereka saling peduli satu sama lain. Misalkan, pada saat Robbie, anak laki-laki Mildred merasa kesal dan marah terhadap ibunya, karena gara-gara perbuatan ibunya dia dicemooh dan dijauhi teman-temannya, tetapi pada saat ayahnya yang yang sudah berpisah dengan ibunya datang untuk mencaci dan mencekik ibunya, Robbie mengarahkan pisau ke leher ayahnya untuk melepaskan ibunya. They show their cares in different ways, without saying the sweetest thing. Semua karakter dalam film ini sulit ditebak, tidak tahu siapa antagonisnya atau protagonisnya, masing-masing karakter memiliki alasan tersendiri untuk berbuat sesuatu hal.


3. Darkest Hour
Oscar sangat tepat sekali memberikan penghargaan the best actor kepada Gary Oldman, if it's not, I'm gonna mad. Saat pertama kali melihat trailer Darkest Hour, saya hampir tidak mengenali wajah Gary Oldman, but he is totally him, the Sirius Black in Harry Potter. Bermain dalam 3 film Harry Potter, membuat saya tidak bisa lepas dari sosok Sirius Black yang dingin dan galak, meski ia bermain dalam film apapun atau berperan sebagai apapun, but here, he is a hundred percent different. Film bergenre drama sejarah negara Inggris ini disutradarai oleh Joe Wright, diproduseri oleh Tim Bevan, Lisa Bruce, Eric Fellner, Anthony McCarten dan Douglas Urbanski dan naskahnya ditulis oleh Anthony McCarten. Menggambarkan negara Britania Raya pada bulan mei 1940, tepatnya pada saat perang dunia ke-2 dimana Jerman semakin gencar melakukan invasi dan berhasil menguasai negara-negara bagian Eropa. Dan pada malam Jerman melakukan serangan ke Belgia dan Polandia, Perdana Menteri Inggris Neville Chamberlain (Ronald Pickup) dipaksa mundur oleh partai oposisi karena dianggap tidak tegas dan terlalu lemah dalam melindungi keamanan nasional negara Inggris. Akhirnya dipilihlah Winston Churchill (Gary Oldman) yang dianggap orang yang paling tepat untuk menjabat Perdana Menteri baru, meski sebenarnya Raja George VI (Ben Mendelshon) kurang menyukainya. Winston memiliki tempramen yang sedikit tinggi dan 'nyeleneh', namun dia sangat tegas. Terbukti, pada saat pidato pertamanya sebagai Perdana Menteri, dia menyatakan perang dan akan melakukan perlawanan penuh tanpa adanya perdamaian terhadap Jerman yang pada saat itu dipimpin Adolf Hittler. Banyak anggota parlemen yang mencibirnya, termasuk Neville Chamberlain dan Viscount Halifax (Stephen Dillane), mereka menganggap Winston terlalu sombong dan percaya diri untuk melawan Hittler, karena sebenarnya pertahanan Inggris sendiri terlalu lemah dalam memfasilitasi alat-alat perang. Beberapa hari menjabat Perdana Menteri baru, Winston langsung dihadapkan masalah bahwa 400.000 tentara Inggris terjebak di Dunkirk (sebuah kota di Perancis), saat itu tentara Jerman sudah hampir mengepung Perancis, kecuali Dunkirk. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan tentara Inggris yang terjebak di Dunkirk adalah Winston harus melakukan negosiasi perdamaian dengan Jerman melalui Italia, sedangkan Winston sendiri sudah berjanji pada dirinya dan rakyat bahwa ia akan memerangi Jerman sampai titik darah penghabisan.


2. The Greatest Showman
Hugh Jackman, saya suka sekali dengan performa bapak yang satu ini dalam setiap film yang dibintanginya. Kali ini dia didapuk sebagai seorang performer sirkus dalam film musikal "The Greatest Showman" yang berdasarkan pada kisah nyata dari seorang showman Amerika Phineas Taylor Barnum yang berjaya di sekitar tahun 1800an. Film ini disutradai oleh Michael Gracey (ini kali pertama dia menyutradai film) dan ditulis naskahnya oleh Jenny Bicks dan Bill Condon. Ceritanya sebenarnya sederhana seperti kisah-kisah jatuh bangun seorang pengusaha sukses, awal mula Barnum kehilangan pekerjaan karena perusahaan tempat ia bekerja bangkrut, kemudian dia memulai membuka usaha sirkus sendiri dengan merekrut beberapa "freaks" alias orang-orang aneh sebagai performernya. Usahanya tidak berjalan lancar, dia harus menghadapi berbagai masalah, termasuk saat dia mulai dibutakan dengan kesuksesan bahkan istri dan anak-anaknya sempat meninggalkannya karena muak dengan sikapnya yang mulai berubah, padahal awalnya Barnum telah berjanji akan membahagiakan Charity Hallet (Michelle Williams), istrinya, Charity sendiri rela meninggalkan kehidupan mewahnya bersama kedua orangtuanya demi hidup miskin bersama Barnum saat itu. Barnum selalu diremehkan dan dihina oleh ayah Charity karena kemiskinannya, untuk itulah dia berusaha menjadikan dirinya sukses untuk membuktikan kepada orang tua Charity bahwa ia mampu membahagiakan putrinya. Ceritanya mungkin sederhana, tetapi musikalitasnya patut diacungi jempol. I love every single song in this film from the beginning until the end. Dimulai dari lagu pembuka "The Greatest Show" dan "A Million Dreams", ada juga "Come Alive", "The Other Side", "Rewrite The Stars", "Thigh Rope", "From Now On" dan "Never Enough" serta "This Is Me" yang saat ini menjadi lagu anthem penyemangat. Lagu-lagu dan tarian-tarian tersebut dinyanyikan langsung oleh para castnya, seperti Hugh Jackman, Zendaya, Keala Settle dan Zac Effron. Sayang, film ini tidak satupun menyabet perhargaan Oscar, padahal menurut saya This Is Me seharusnya lebih unggul dibanding Remember Me.

1. Dunkirk
Save the best for the last. Inilah juaranya, meski tidak memenangkan kategori best picture in Oscar, for me, this is the best movie in 2017 karena film ini diangkat dari kisah nyata dan termasuk dalam konflik mematikan dalam sejarah umat manusia pada perang dunia ke-2. Saya selalu tertarik dengan film-film yang berlatar perang dunia ke-2, selalu ada kisah-kisah dibalik dahsyatnya perang yang berlangsung sekitar tahun 1936-1945 itu, salah satunya film ini. Film ini disutradai dan ditulis naskahnya oleh Christopher Nolan, saat ini dialah yang selalu saya nanti-nanti karya filmnya. Saya sangat menyukai setiap detail film ini, mulai dari scoring musik (bahkan suara detik jam sakunya pun saya suka), dialog yang sangat minim sekali (justru lebih banyak adegan menegangkan dibanding dialog), dan yang paling menarik film ini bertemakan drama sejarah perang yang mengharuskan digambarkan ada dua sekutu yang berperang tetapi tidak sedikitpun digambarkan dalam film ini bagaimana rupa atau wajah-wajah si musuh (tentara Nazi Jerman). Jika dalam film Darkest Hour menceritakan bagaimana cara Winston Churchill mengevakuasi 400.000 tentara Inggris di pantai Dunkirk, film ini menceritakan bagaimana proses evakuasinya. Secara tidak langsung kedua film tersebut saling berhubungan. Film ini memiliki tiga setting, yakni The Mole (dermaga), The Air (udara) dan The Sea (laut). Tommy yang diperankan oleh Fionn Whitehead (ini adalah film debut pertamanya sekaligus langsung dipercaya menjadi pemeran utama) adalah tentara angkatan darat Inggris yang berusaha bertahan hidup dan mencari jalan untuk pulang melalui jalur laut bersama temannya Alex yang diperankan oleh Harry Styles, walaupun sebenarnya besar kemungkinan tipis sekali untuk selamat melalui jalur apapun itu. Sedangkan di udara ada Farrier yang diperankan oleh aktor favorit saya yaitu Tom Hardy. Farrier adalah tentara angkatan udara yang bertugas terus menggempur pihak musuh dari jalur udara, alih-alih untuk mengalihkan perhatian musuh dari proses evakuasi jalur laut. Di laut diceritakan Mr. Dawson (Mark Rylance) dan puteranya Peter (Tom Glynn Carney) beserta teman Peter, George (Barry Keoghan) ikut serta membantu proses evakuasi dengan menaiki perahu bersama 1000 perahu milik warga sipil lainnya, mungkin terdengar konyol, perahu bermuatan kecil pergi ke medan perang untuk menyelamatkan 400.000 tentara Inggris yang justru hanya akan mencelakai mereka sendiri. Tapi ide inilah yang muncul dari Winston Churchill. Winston lah yang memberikan perintah kepada tentara angkatan laut untuk ikut melibatkan warga sipil dengan mengirimkan 1000 perahu milik mereka. Mulai dari pelajar, orangtua dan para perempuanpun ikut bahu membahu dalam proses evakuasi tersebut, tidak peduli sedikit atau banyak nyawa yang bisa mereka selamatkan. Membahas film ini membuat saya sangat bersemangat, saking semangatnya, saya menontonnya hingga dua kali.

Ciao adios.

-A-


Minggu, 31 Desember 2017

Stranger Things



Pengagum karya Stephen King? Pernah menonton film E.T (1982) karya Steven Speilberg? Atau Interstellar (2014)-nya Christoper Nolan (now he's one of my favourite director)? Atau mungkin Upside Down (2012) karya Juan Diego Solanas dan IT yang baru saja diremake Andy Muschietti?  Yass, Stranger Things seperti perpaduan film-film tersebut. Bedanya Stranger Things bukan film, melainkan tv show (serial) yang tayang di Netflix (salah satu layanan video streaming terbesar di Amerika Serikat, bukan tv cable, lebih mendekati youtube sepertinya). Sebenarnya saya dibilang jarang sekali nonton serial barat, dulu sempat beberapa mengikuti Supernatural, Heroes, Glee, Gossip Girl, Prison Break dan Good Doctor, kemudian saya kurang update karena episode nya terlalu panjang dan ada beberapa dari jalan cerita yang kurang menarik menurut saya, setelah itu saya bisa dibilang tidak pernah nonton tv show lagi.
Awalnya secara tidak sengaja saya menonton acara talk show Jimmy Fallon, saat itu guest star yang dihadirkan adalah sekelompok anak (3 laki-laki dan 1 perempuan) sekitar belasan tahun. Mereka adalah Millie Bobby Brown, Finn Wolfhard, Caleb Mclaughlin dan Gaten Materazzo. Dalam talk show tersebut sang host alias Jimmy Fallon memuji akting mereka dalam serial yang berjudul Stranger Things yang sangat terkenal atau bahasa kerennya lagi happening banget di Amerika sana dan beberapa negara lainnya. Dari obrolan yang cukup menarik itu, saya mencoba mencari tahu tentang serial Stranger Things, mulai dari sinopsis, trailer, sutradara, penulis dan para cast. Setelah saya menonton episode pertama dari season yang pertama, saya mulai addicted  episode by episode sampai akhirnya saya menyelesaikan semua episode season awal (terdiri dari 8 episode dengan durasi kurang lebih 45 menit) hanya dalam semalam saja. Dikisahkan tahun 1983 di sebuah kota yang bernama Hawkins, Indiana (fiktif) terdapat sebuah laboratorium yang diketahui penduduknya adalah milik pemerintah. Suatu malam terjadi kebocoran di dalam lab tersebut, yang mengakibatkan 'sesuatu' keluar dari lab tersebut. Pada malam yang sama sekelompok anak yang dipimpin oleh Mike Wheeler (Finn Wolfhard), dengan anggota Dustin Henderson (Gaten Materazzo), Lucas Sinclair (Caleb Mclaughlin) dan Will Byers (Noach Schnapp) sedang asyik bermain Dungeons and Dragon di basement rumah Mike, setelah 11 jam bermain ibu Mike, Mrs. Wheeler (Cara Buono) menghentikan permainan tersebut. Dustin, Lucas dan Will pulang bersama dari rumah Mike dengan mengendarai sepeda malam itu. Keesokan paginya, dikabarkan bahwa Will Byers menghilang tanpa jejak. Joyce Byers (Winona Ryder), ibu dari Will segera melaporkan kehilangan anaknya kepada pihak kepolisian. Jim Hopper (David Harbour) yang merupakan kepala polisi di kota Hawkins langsung turun tangan menangani kasus hilangnya Will Byers. Mike, Dustin dan Lucas tidak ingin tinggal diam, mereka dengan sembunyi-sembunyi mencari Will meski orang tua mereka melarangnya dengan alasan terlalu berbahaya. Di malam pertama hilangnya Will, bukan Will yang ditemukan, justru mereka menemukan seorang anak perempuan seumuran mereka di sebuah hutan yang mereka sebut Mirkwood (sebuah hutan dari novel Lord Of The Rings). Anak tersebut berkepala plontos seperti pengidap kanker, Mike memberikan nama Eleven (Millie Bobby Brown) kepada anak perempuan tersebut, karena dia memiliki semacam tato di tangannya dengan angka 011. El (kependekan dari Eleven) disembunyikan di basement rumah Mike tanpa sepengetahuan orangtuanya, sampai akhirnya Mike, Dustin dan Lucas menyadari ada yang aneh dalam diri El, selain ada orang jahat yang mengincarnya, El memiliki kekuatan telekinesis. El dapat menggerakkan benda-benda (bahkan benda berat sekalipun) dengan pikirannya dan menjelajah waktu dan keberadaan seseorang dengan mata tertutup. Selain itu, Joyce Byers dan Jim Hopper menyadari ada kejanggalan dalam kasus hilangnya Will, yang menghubungkan mereka dengan dimensi lain yang mereka sebut dengan upside down. Joyce merasa Will masih hidup karena ia bisa melakukan komunikasi dengan cara yang aneh, seperti melalui lampu, dan Hopper merasa bahwa kejanggalan dan hilangnya Will beserta beberapa orang di Hawkins ada hubungannya dengan kebocoran lab yang terjadi pada malam yang sama dengan hilangnya Will. Semua keterhubungan semakin jelas, saat Nancy Wheeler (Natalia Dyer), kakak perempuan Mike dan Jonathan Byers (Charlie Keaton), kakak laki-laki dari Will Byers melakukan beberapa investigasi mengenai 'makhluk' yang menghantui kota Hawkins selama ini. Sehingga akhirnya hilangnya Will, kemunculan El dan makhluk yang menyeramkan, semuanya bersumber dari laboratorium yang ternyata melakukan eksperimen-eksperimen di luar dugaan dan akal sehat. Season satu berakhir dengan kembalinya Will dari kematian dan El yang menghilang kembali ke upside down. Season dua baru saja rilis oktober kemarin, dan cerita berkembang ke tahun 1984, dimana Will yang hidup kembali dari kematian menjadi sebuah perbincangan besar di kota Hawkins. Dimulai dengan datangnya anak baru ke kota mereka bernama Mad Max (Saddie Sink) dan kakaknya yang kasar, Billy (Dacre Montgomery). Mad max ingin bergabung ke dalam kelompok AV club tetapi ditentang oleh ketua mereka, Mike. Mike merasa hanya El satu-satunya anak perempuan yang pantas masuk dalam kelompoknya, berbeda dengan Lucas dan Dustin yang sangat welcome dengan kedatangan Mad Max. Kemudian Will merasa masih terjebak di upside down meski dia kini sudah berada di dunia nyata, Will masih mengalami trauma yang disebut true side, dimana ia seperti memiliki penglihatan mengenai upside down. Meski sudah mengalami beberapa perawatan dan terapi, Will semakin merasa kini justru dirinya adalah monster. Will tidak berani menceritakan hal tersebut kepada ibunya, dia hanya menceritakannya kepada Mike, Mike dapat mengerti keadaan Will karena Mike pun percaya bahwa El masih hidup, meski tidak tahu dimana keberadaanya. Suatu malam, setelah Mike, lucas, Dustin dan Mad Max merayakan Halloween di sekolahnya, Dustin menemukan sebuah mahkluk aneh di tong sampah rumahnya. Mahkluk tersebut diberi nama Dart oleh Dustin, kemudian Dustin memberitahu kelompoknya mengenai Dart, ada sesuatu yang aneh ketika Will melihat Dart, Will semakin mengalami trauma hebat. Mike menyimpulkan bahwa Dart berasal dari upside down, tetapi Dustin menentang dengan keras bahwa Dart hanyalah makhluk kecil yang tersesat, sehingga suatu hari Mike memutuskan bahwa Dart berbahaya dan harus segera dilaporkan keberadaannya, tetapi Dustin menolak sampai akhirnya dia memutuskan untuk menyembunyikan Dart tanpa sepengetahuan kelompoknya. Semakin hari, ukuran Dart semakin besar dan siapa sangka dia berubah menjadi jelmaan Demogorgon (makhluk yang diceritakan pada season satu) dan dog yang disebut Demodog oleh Dustin (seperti perkawinan antara demogorgon dan anjing). Plot semakin klimaks, saat tubuh Will dijadikan inang oleh mahkluk yang berasal dari upside down, laboratorium yang secara diam-diam masih melakukan penelitian mengenai upside down, Demodogs yang semakin banyak masuk ke dalam kota Hawkins dan El yang datang kembali untuk menyelamatkan teman-temannya. Season dua ini terdiri dari 9 episode masih dengan durasi yang sama, perbedaan dari segi cerita dan cast cukup signifikan hanya saja ada satu episode yang menurut saya sepertinya tidak terlalu penting atau sebenarnya tidak tahu apa hubungannya dengan episode-episode lainnya, atau mungkin koneksinya akan terkuak di season tiga. Kabarnya season tiga sendiri sudah akan memulai syuting jadi belum tahu kapan akan ditayangkan. Saya sangat menyukai ide cerita horror thriller yang dibuat oleh sikembar Matt dan Ross Duffer (The Duffer Brothers) dan di direct langsung oleh Shawn Levy (pernah menyutradai Night at Museum, Real Steel dan yang terkenal Arrival). Cerita yang disajikan sangat apik dengan setting tahun 1980an, penuh misteri, science fiction, teka-teki dan kejutan di setiap episodenya, dan akting para cast yang benar-benar pas sesuai porsinya, tidak berlebihan. Sangat rekomen sekali untuk ditonton, hanya saja ada sedikit adegan yang kurang pantas ditonton (lebih baik diskip saja), namun dari keseluruhan cerita sangat bagus dan sedikit berbeda dari serial tv yang pernah ada. Jika ingin menonton keseluruhan episode dari season satu dan dua, dapat berlangganan aplikasi netflix atau dapat di download dari situs-situs yang menyediakan berbagai serial tv. Baiklah, selamat menonton semoga demogorgon tidak datang menculikmu ke dalam upside down seperti Will.


-A-

Rabu, 27 Desember 2017

Pengalaman Ibadah Umroh Pertama


Ini bukan termasuk ke dalam resolusi tahun ini awalnya, tetapi karena terlalu banyak hal yang mengejutkan yang terjadi selama setahun ini saya memutuskan ingin pergi ber-umroh. Dikatakan terlalu mendadak mungkin tidak, karena saya tidak memiliki banyak tabungan, dikatakan sudah direncanakan dari jauh juga tidak, karena saat itu belum terpikir akan pergi dalam jangka waktu dekat, pada intinya siapa yang tidak ingin pergi ke Rumah Allah jika ada kesempatan, jadi saya memanfaatkan kesempatan yang mungkin hanya akan datang sekali dalam seumur hidup saya. Awal tahun 2017 saya sudah mencari cari travel umroh yang bisa dicicil pembayarannya perbulan sekitar Rp.1.000.000,-. Saya menemukan travel sesuai harapan, tidak terlalu mahal (karena dana saya terbatas) dan tidak terlalu murah (mengingat banyak sekali penawaran termurah pada ujung-ujungnya terkena tipu). Saya harus rela menyisihkan sebagian gaji saya, walaupun pada saat itu saya fikir tidak masalah jika harus berangkat 2 tahun lagi atau kapanpun saya bisa melunasinya. Mendekati akhir tahun saya berubah pikiran, tidak tahu bagaimana caranya saya harus berangkat tahun ini juga. Dengan susah payah akhir oktober saya melunasi pembayaran dan melengkapi berkas yang dibutuhkan seperti passpor (kebetulan saya sudah punya sejak lama meski masih polos bersih belum terisi), pas foto, kartu meningitis (waktu itu saya suntik meningitis di RS Fatmawati dengan biaya Rp. 300.000,-), KTP, kartu keluarga dan akta kelahiran. Dan Alhamdulillah, saya berangkat di akhir november.
Tidak banyak persiapan yang saya lakukan, karena saya sendiri tipikal orang yang malas membawa banyak barang, jadi saya membawa perlengkapan secukupnya dan yang benar-benar dibutuhkan. Berikut beberapa perlengkapan yang saya persiapkan:
1. Pakaian ihram sebanyak 2
2. Atasan mukena, kenapa hanya atasan? Karena pada umumnya para wanita di Arab biasanya selalu sholat hanya dengan pakaian yang menempel pada tubuhnya, mengingat mereka selalu memakai pakaian yang tertutup dari atas kepala sampai ujung kaki, pun dengan saya yang akan memakai pakaian seperti itu
3. Jaket dan sweater masing-masing satu.
4. Gamis untuk pakaian ganti sebanyak 3
5. Tunik 1 dan celana panjang 3 sebagai pakaian dalam gamis
6. Kulot dan kaos serta gamis masing-masing 1 (untuk pakaian tidur)
7. Pakaian dalam bawa sekitar 5 pasang, karena saya menggunakan pentiliner untuk mengurangi beban bawaan yang berlebihan
8. Perlengkapan mandi (meskipun pihak hotel biasanya menyediakan, alangkah lebih baik apabila kita juga membawa sendiri)
9. Obat-obatan yang biasa dikonsumsi serta vitamin suplemen untuk menjaga daya tahan tubuh pada saat di sana
10. Kaos kaki 4 dan sarung tangan 1
11. Kerudung siap pakai 4 dan jilbab 3
Itu yang menurut saya perlengkapan paling penting, tambahan lainnya mungkin seperti kacamata hitam, tissue basah, tissue kering, payung, pelembab kulit maupun wajah dan perlengkapan wanita lainnya yang memungkinkan dibutuhkan. Dan yang tak kalah penting pastinya uang (rupiah dan riyal) dan smartphone (berikut charger dan power bank). Untuk uang riyal sebaiknya di tukar di tanah air saja, karena untuk mempermudah dan sudah pasti nilai beli yang berbeda antara di Indonesia dan Saudi Arabia. Kita bisa menukarnya di Bank atau Money Changer. Kebetulan saya menukarnya di Money Changer, karena lebih simpel dan tidak ribet ketimbang di Bank, dari nilai beli pun lebih murah dibanding Bank. Nilai beli pada saat saya menukar riyal adalah Rp. 3.785 untuk pecahan 100 dan Rp. 3.830 untuk pecahan 50, 10 dan 5, yang membedakan harganya mungkin dari tingkat kelangkaan, karena apabila kita menukar uang riyal di tanah air lebih banyak tersedia pecahan besar seperti 500 dan 100 ketimbang pecahan kecil seperti 50, 10 dan 5, bahkan untuk pecahan 1 riyal pun sudah dibilang tidak dapat ditemukan lagi di Indonesia, jika adapun jumlahnya sedikit. Saya sendiri membawa 1000 riyal dengan pecahan 100, 50, 10 dan 5, selain uang riyal saya juga membawa cash rupiah sebesar 1 juta, menurut saya cukup, karena mengingat saya datang ke sana bukan untuk wisata melainkan untuk ibadah. Kemudian Smartphone, smartphone sangatlah penting, bukan untuk sekedar foto-foto, karena untuk pemerintah Arab Saudi sendiri kini sudah mengeluarkan peraturan dimana jamaah dilarang untuk berselfie atau wefie ria di sekitar Ka'bah atau  tempat peribadahan lainnya yang akan mengakibatkan suasana ibadah tidak khusuk (tetapi pada kenyataannya saya dan yang lainnya masih tetap mencuri-curi foto, karena sepertinya sayang sekali jika melewatkan pengalaman ini tanpa adanya dokumentasi, meski harus ada tragedi kejar-kejaran dengan askar alias polisi penjaga Masjid, hehe). Keberadaan smartphone disini untuk mempermudah komunikasi pada saat di sana dengan sesama jamaah lainnya ataupun komunikasi dengan keluarga di tanah air, saya menggunakan roaming paket umroh 9 hari dari telkomsel sebesar Rp. 275.000 (5gb) dan sudah diaktifkan secara otomatis pada tanggal sesuai keberangkatan setelah saya melakukan reservasi terlebih dahulu ke galeri grapari telkomsel. Saya sarankan untuk tidak membeli kartu perdana di Arab Saudi, karena kebanyakan teman-teman saya yang membeli di sana sama sekali tidak berfungsi, entah dari kartu GSM yang berbeda dari yang sering digunakan di Indonesia atau ada beberapa yang tidak support di smartphone yang digunakan.
Tiba keberangkatan tanggal 27 november, saya berangkat ke bandara soetta setelah magrib, karena saya dan para jamaah lainnya diwajibkan berkumpul pukul 20.00 untuk latihan manasik yang kedua kalinya (untuk latihan manasik pertama kebetulan saya tidak bisa hadir). Setelah menunggu di lounge umroh kurang lebih 2 jam, akhirnya kami semua berangkat menuju bandara sekitar pukul 22.00. Seperti biasa sebelum masuk pesawat kita melakukan beberapa pengecekan, dan pesawatpun lepas landas tepat pukul 00.30 malam waktu bagian Tangerang. Dengan menggunakan pesawat Citilink perjalanan memakan waktu kurang lebih 12 jam dikarenakan pesawat transit terlebih dahulu di bandara Ahmedabad, India, selama 40 menit untuk pengisian bahan bakar. Kami tiba di bandara King Abdul Aziz, Jeddah, pada pukul 09.30 pagi waktu bagian Arab Saudi. Satu hal yang membuat saya takjub sampai saat ini adalah perbedaan waktu, bumi yang berputar pada porosnya, selain mengakibatkan adanya siang dan malam dan perbedaan gravitasi bumi, juga berpengaruh pada perbedaan waktu. Perbedaan waktu antara Indonesia dan Arab Saudi adalah 4 jam lebih lambat di Arab Saudi dibanding Indonesia, itu berarti ketika kami sampai pukul 09.30 pagi di Arab Saudi berarti pukul 13.30 siang di Indonesia. Tibanya kami di Jeddah merupakan hari pertama dari total 9 hari rangkaian perjalanan umroh, dan dari Jeddah pula kami diantar menggunakan bis wisata yang sudah didampingi oleh pemandu untuk pergi ke Kota Madinah. Perjalanan dari Kota Jeddah ke Madinah kurang lebih 6 jam (normalnya, tanpa macet dan berhenti di rest area). Sepanjang jalan menuju Kota Madinah selain disuguhi cuaca yang panas, saya pun disuguhi pemandangan gurun, gunung bebatuan serta bangunan kubus dan balok (rata-rata begitulah bentuk rumah dan bangunan di Arab Saudi), dan satu lagi pemandangan yang tidak biasa yaitu banyaknya monyet berbokong merah (jika di Indonesia disebut Yaki, biasanya dapat ditemukan di daerah Sulawesi, itupun sudah langka keberadaannya) di pinggir jalan raya, konon katanya pada saat banjir bandang di Jeddah kemarin mengakibatkan satwa tersebut terbawa arus ke daerah-daerah pemukiman warga dan jalan-jalan raya (mungkin karena sulit juga menemukan pepohonan di daerah sana yang merupakan habitat asli para satwa tersebut). 

Bangunan di Arab Saudi, saat pertama kali tiba di Jeddah

Monyet berbokong merah yang meminta-minta makanan

Saya dan jamaah lainnya tiba di kota Madinah pukul 17.30, kami langsung diantar ke hotel tempat kami menginap yaitu Luxurious Al-Rawdah Suite Hotel yang jarak dari hotel ini ke Masjid Nabawi kurang lebih 100 km dengan berjalan kaki, cukup dekat, saat kami keluar dari pintu lobi hotel pun, kami sudah disuguhi dengan megahnya pemandangan Masjid Nabawi. 

Hotel tempat kami menginap di Madinah

Sedikit history tentang Masjid Nabawi, Masjid yang biasa disebut juga dengan Masjid Nabi ini adalah peninggalan Nabi Muhammad SAW karena didirikan langsung oleh Beliau. Dulu Masjid ini juga digunakan sebagai tempat tinggal Nabi Muhammad selama beliau berada di Kota Madinah, hingga sebelum akhir hayat nya pun beliau sudah berpesan agar beliau dimakamkan di Masjid Nabawi yang saat ini makam tersebut dinamakan Raudhah yang dalam bahasa indonesia artinya "Taman". Masjid ini menjadi tempat paling suci kedua dan terbesar di dunia kedua setelah Masjidil Haram di Mekah. Masjid ini terbuka untuk umum selama 24 jam, untuk keramaiannya pun tidak perlu dipertanyakan lagi, 24 jam nonstop, even itu tengah malam sekalipun.

Pemandangan Masjid Nabawi malam hari

Okay lets we start from the second day in Madina

- Day two
Hari kedua di Kota Madinah kami melakukan city tour ke beberapa tempat seperti berkunjung ke Masjid Quba yang jaraknya 5 km dari pusat kota Madinah. Masjid Quba merupakan Masjid pertama yang dibangun Rasulullah semenjak beliau hijrah ke Madinah. Di masjid ini kami diberikan waktu untuk melaksanakan Shalat Tahiyatul Masjid dan Shalat Dhuha, banyaknya jamaah yang sedang berkunjung untuk sholat sehingga saya tidak dapat solat di dalam Masjid, hanya di pelataran  saja, dan kami berada di sana tidak lebih dari satu jam.

Masjid Quba yang jaraknya 5 km dari hotel

Persinggahan kedua yaitu Kebun Kurma yang hanya butuh 5 menit perjalanan dari Masjid Quba. Di sini ada kurang lebih 1600 pohon kurma dan diperkirakan sudah ada sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Selain ada kebun kurma di tempat ini juga tersedia pasar tempat menjual oleh-oleh khas Arab yang pasti semuanya sudah tahu apa saja itu.

Kebun kurma yang luasnya 25 hektar

Selepas kami berbelanja kami berziarah ke Jabal Uhud yang merupakan pemakaman para Syuhada. Uhud sendiri artinya menyendiri, karena bukit ini berbeda dari bukit-bukit lainnya yang ada di Madinah yang pada umumnya saling menyambung, tetapi Jabal Uhud ini keberadaanya menyendiri tidak saling menyambung. Uhud diambil dari nama sebuah peperangan yaitu perang Uhud yang terjadi sekitar tahun 3H, dimana kaum muslimin sebanyak 700 orang melawan kaum musyrikin sebanyak 3000 orang, dan dari perang Uhud tersebut wafat 70 syuhada termasuk paman Nabi Muhammad yaitu Hamzah Bin Abdul Munthalib, yang kemudian para syuhada tersebut dimakamkan di bukit Uhud.

Jabal Uhud tempat 70 syuhada dimakamkan

City tour berakhir sore hari, selanjutnya kami dapat melakukan ibadah masing-masing. Karena jarak hotel ke Masjid Nabawi yang sangat dekat, saya dan teman-teman sekamar berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan Shalat 5 waktu di Masjid Nabawi, sepertinya sayang sekali jauh-jauh ke Madinah tetapi melewatkan Shalat di Masjid Nabawi. Berbicara teman sekamar, teman sekamar saya terdiri dari 4 orang, mereka adalah Mama Ajeng dan Mama Sri dari Cirebon, Mama Aden dan anaknya yang bernama Livia dari Banten. Mungkin kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu, tetapi percaya atau tidak, saya lebih menyukai mereka dibanding dengan orang-orang yang lebih muda, karena mereka lebih  tahu kegiatan yang harus diprioritaskan, selain itu mereka pribadi-pribadi yang menyenangkan layaknya para ibu di dunia, selalu hangat.

My roomate

Kembali lagi ke Masjid Nabawi, bagi yang ingin mendapatkan Shaf paling depan di Masjid Nabawi ini diharapkan untuk datang satu jam lebih awal atau minimal setengah jam dari berkumandangnya adzan, dikarenakan banyaknya jumlah jamaah yang ingin Shalat di sana. Pernah sekali saat saya baru datang di Madina, saya dan teman-teman sekamar datang ke Masjid untuk Shalat Maghrib pas pada saat adzan berkumandang, alhasil, kami hanya shalat di depan gerbangnya saja (di luar dekat pertokoan) padahal adzan baru saja berkumandang, tetapi kami sudah kehabisan tempat, pada intinya kita tidak bisa berleha-leha jika ingin mendapatkan shaf di dalam Masjid. Di hari pertama ini juga pada malam harinya kami akan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW yang berada di dalam Masjid Nabawi. Ada beberapa tata cara untuk berziarah ke Makam Rasulullah, singkatnya, jamaah laki-laki dan perempuan terpisah, selain itu setiap rombongan harus dibimbing oleh ustadz/ustadzah dalam kata lain pemandu yang sudah  paham dengan peraturannya.  Makam Rasulullah berada di samping makam Abu Bakar Assidiq dan Umar Bin Khatab, jadi pada saat kita memasuki Raudhah setelah Shalat Tahiyyatul Masjid kita mundur satu hasta lalu bergerak ke arah kanan untuk mengucapkan salam kepada Abu Bakar Assidiq kemudian mundur lagi satu hasta dan bergerak lagi ke arah kanan untuk mengucapkan salam kepada Umar Bin Khatab. Rombongan perempuan kami dipimpin oleh ustadzah yang berasal dari Indonesia juga, sebelum kami masuk ke dalam Raudhah diwajibkan memiliki wudhu karena kami akan masuk ke tempat yang suci dan sebisa mungkin sebanyak-banyaknya kita mengucapkan shalawat pada saat memasuki Raudhah. Raudhah sendiri berada di paling depan Masjid Nabawi dengan beralaskan karpet/sejadah berwarna hijau (karena karpet yang lainnya berwarna merah) dekat dengan mimbar. Jika kita sudah menginjak karpet berwarna hijau tersebut berarti kita sudah berada di Raudhah. Pada saat berada di Makam Rasulullah kita bisa melakukan shalat dua rakaat jika ada waktu, shalat apapun itu, bisa Shalat Taubat, Shalat Hajat atau shalat sunah lainnya, jika tidak memungkinkan untuk shalat kita bisa berdoa apa saja karena makam Rasulullah merupakan tempat yang paling diijabah jika kita berdoa. Untuk waktu sangat terbatas, kami hanya diberi waktu sekitar 3 menit untuk shalat atau berdoa karena harus bergiliran dengan jamaah lainnya. Larangan lainnya yang tidak boleh dilakukan di dalam Raudhah adalah mengusap atau mencium makam Rasulullah (khawatir termasuk ke dalam kategori syirik). Di dalam Raudhah sudah dipastikan akan saling berdesakan dan berdorongan saking banyaknya jamaah yang ingin berziarah, jika kita di dorong atau didesak oleh orang lain, di usahakan untuk tidak marah atau mengeluarkan kata-kata tidak sopan, karena itu sangat dilarang, jadi sebaiknya kita terus membaca sholawat ketimbang marah-marah. Karena saya berada di barisan paling depan rombongan, Alhamdulillah dengan bantuan ustadzah kami, yang berada di depan kami, saya bisa melakukan shalat meski jamaah yang lainnya terus saja mendorong-dorong dari belakang, selesai shalat saya langsung menuju jalan keluar yang ditunjukkan oleh salah satu polisi wanita, dengan susah payah akhirnya saya bisa keluar dari Makam Rasulullah dan menunggu rombongan di area jalan keluar. Ada 3 waktu yang disediakan Masjid Nabawi untuk berziarah, yaitu setelah Shalat Shubuh, setelah Shalat Dzuhur dan setelah Shalat Isya. Setiap harinya dari 3 waktu tersebut, peziarah selalu penuh berdatangan dari berbagai penjuru dunia dan menurut saya, berziarah ke Makam Rasulullah merupakan pengalaman yang paling berkesan setelah melihat Ka'bah, sayangnya saya tidak bisa mengabadikan moment tersebut karena dilarang mengambil foto dengan cara apapun. Selesai berziarah kami kembali ke hotel sekitar setengah satu malam, setelah dua jam tidur, saya dan teman-teman sekamar kembali lagi ke Masjid Nabawi pukul 03:30 untuk Shalat Tahajud.

- Day three
Hari ketiga dimulai dari saya dan dua teman sekamar saya Shalat Tahajud pukul 03:30 malam, pengalaman di hari kedua saya Shalat Tahajud, saya pergi ke Masjid pukul 01.30 malam, karena jam itu adalah jam-jam sepertiga malam sama halnya seperti di Indonesia, tapi ternyata itu terlalu malam, karena dari jam itu menuju Shubuh masih terlalu lama. Adzan dikumandangkan dua kali, adzan pertama pukul 04:00 yang kata orang adzan tersebut menandakan untuk Shalat Tahajud dan adzan yang kedua pukul 06:30 sendiri untuk Shalat Shubuh, which is dari 01:30 ke 05:30 masih ada kurang lebih 4 jam. Sebenarnya kita bisa saja tidur untuk menunggu waktu seperti jamaah lainnya, tapi sepertinya sayang sekali jika pergi ke Masjid hanya untuk tidur. Akhirnya dari pengalaman tersebut kita coba atur ulang alarm, yakni pukul 03:00 kita bangun untuk mandi dan siap-siap, pukul 03:30 kita pergi ke Masjid. Setiap kali kami masuk Masjid, polisi wanita selalu memeriksa isi tas yang kami bawa di pintu masuk, dan sebelum mencari spot tempat Shalat kami selalu menyempatkan minum air zam-zam yang sepertinya jumlahnya ratusan atau mungkin bisa mencapai seribu galon berderet rapi mulai dari arah masuk sampai depan Raudhah, bahkan kini sudah menjangkau setiap sudut Masjid, konon katanya, setiap harinya Masjid Nabawi ini memasok 300 ton air zam-zam untuk kebutuhan jamaahnya. Ada hal menakjubkan yang baru saya sadari pada saat di dalam Masjid, yakni kubah Masjid yang terbuka secara otomatis ketika adzan shubuh berkumandang, karena pada saat itu tempat shalat saya tepat di bawah kubah Masjid, Subhanallah, saya dapat menyaksikan terbukanya kubah tersebut secara langsung dan shalat beratapkan langit malam yang indah.

Kubah Masjid Nabawi yang terbuka otomatis saat adzan Shubuh ke-2

Setiap kali selesai Shalat Shubuh, selalu disambung dengan Shalat Jenazah, yang diperuntukkan bagi seluruh muslim di penjuru dunia yang meninggal setiap harinya. 
Ada yang menarik setiap kali keluar Masjid setelah Shalat Shubuh, yaitu pertokoan ataupun pedagang dadakan yang sudah buka pagi-pagi buta untuk menawarkan dagangannya kepada para jamaah yang baru saja pulang Shalat Shubuh, tidak tahu mulai dari jam berapa sampai jam berapa toko mereka buka, yang pasti pada saat adzan berkumandang toko mereka tutup dan berbondong-bondong pergi ke Masjid untuk menunaikan ibadah Shalat. Saat itu kamipun tidak mau ketinggalan untuk melihat-lihat dan berbelanja. Di hari ketiga ini kegiatan diisi secara bebas, kami bisa memutuskan pergi ke tempat-tempat yang ingin dikunjungi baik secara pribadi atau rombongan (tidak disarankan untuk wanita pergi sendiri tanpa mahrom, karena sangat berbahaya, apalagi jika tidak tahu arah pulang ke hotel, itu sebabnya masing-masing dari kami dibekali kartu nama hotel untuk berjaga-jaga apabila tersesat bisa menunjukan kartu nama tersebut kepada orang setempat untuk ditunjukan letak hotel kami menginap) ataupun ingin memilih stay di hotel untuk beristirahat. Kegiatan yang kami isi tidak begitu banyak, hanya jalan-jalan di sekitar hotel, berburu oleh-oleh dan menghabiskan waktu di Masjid Nabawi.

- Day four
Ini adalah hari terakhir kami berada di Madinah. Kami akan bertolak ke Mekah setelah Shalat Jum'at. Hal menarik lainnya yang saya temukan di sini adalah perempuan diperbolehkan untuk mengikuti Shalat Jum'at di Masjid Nabawi (yang berarti bagi wanita pun 2 rakaat Shalat Jumat sudah menggantikan 4 rakaat Shalat Dzuhur), bagi saya, ini pertama kalinya saya mengikuti Shalat Jum'at. Sebelum Shalat Jum'at kami disunahkan untuk mandi ihram, karena setelah Shalat Jum'at (pukul 15:00) kami segera check out dari hotel menuju Mekah, namun sebelumnya kami akan melakukan Shalat Ihram dan mengambil niat ihram di Masjid Bir'ali yang letaknya 9 km dari kota Madinah. Shalat dan niat Ihram (miqat) wajib dilakukan di luar tanah haram, yakni di luar kota Mekah.

Suasana Masjid Bir'ali pada saat pengambilan Miqat

Perjalanan dari kota Madinah ke kota Mekah membutuhkan waktu kurang lebih 6 jam, karena kami melakukan miqat terlebih dahulu di Masjid Bir'ali tadi, akhirnya kami sampai di kota Mekah tengah malam pukul 00:00. Sesampainya di hotel Barakat Burhan (hotel tempat kami menginap di Mekah), kami langsung makan malam, karena sudah tengah malam, jatah makan malampun sudah habis, sebagai gantinya pihak hotel memesankan kami makanan siap saji, namanya Al-baik, semacam paket makan Mcdonal atau KFC, yang membuat saya terkejut adalah porsinya (mungkin sudah disesuaikan dengan porsi orang-orang Arab), isinya sekitar 5-6 potong ayam dengan ukuran besar, kentang french fries dan satu roti bun (roti burger), dan saya hanya bisa menghabiskan satu potong ayam.

Al-baik, makanan cepat sajinya orang Arab

- Day five
Ihram dilakukan malam hari pukul 01:30 malam untuk menghindari banyaknya jamaah lain yang akan melakukan ihram. Inilah intinya ihram, hanya ada di satu hari dan dilakukan kurang lebih 4-5 jam, dan ihram itu intinya ada 3 hal, yakni tawaf (mengelilingi Ka'bah 7x), sa'i (berlari-lari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwah 7x) dan tahallul (memotong rambut minimal 3 helai). Pertama kali saya masuk ke Masjidil Haram, perasaan saya senang luar biasa, apalagi pada saat akan melakukan Tawaf (the first time I've seen Ka'bah, and it was really huge), tidak bisa diucapkan dengan kata-kata yang ada hanya rasa takjub secara terus menerus, karena di sinilah pusat umat manusia (muslim) dari seluruh dunia bersujud.

Suasana pertama kali kami mengunjungi Masjidil Haram

Jangan pernah bertanya kepada orang Mekah di mana arah kiblat karena mereka sama sekali tidak tahu, yang mereka tahu hanya arah Ka'bah, samping kanan kiri dan atas belakang. Kembali ke ihram, dengan di pandu ustadz, kami melakukan tawaf sebanyak 7x, sebelumnya kami diperingatkan untuk tidak menyentuh Ka'bah, karena Ka'bah itu wangi, sedangkan kita yang sudah berniat ihram diharamkan memakai atau menyentuh wewangian, dan ihram kita tidak sah, jika tidak sah kita wajib membayar denda, jadi alangkah baiknya apabila kita ingin menyentuh Ka'bah atau mencium Hajar Aswad dilakukan setelah ibadah ihram selesai. Tawaf dilakukan berlawanan arah jarum (it means the left shoulder facing to Ka'bah). Menyenangkan sekali melakukan ihram di tengah malam, karena udaranya sejuk sekali dan jamaah yang melakukan tawafpun terbilang banyak namun tidak padat.

Suasana Tawaf tengah malam

Selesai Tawaf, kami langsung menuju Shafa Marwah untuk melakukan Sa'i. Bukit Shafa Marwah ini adalah sejarah mengenai Siti Hajar yang mencari-cari sumber air untuk diminumkan kepada Nabi Ismail, setelah 7x berlari-lari dari Shafa ke Marwah muncullah air zam-zam. Jarak Shafa ke Marwah adalah 350 meter, which is apabila kita melakukan sebanyak 7x jaraknya kurang lebih 3,15 km. Menurut saya Sa'i lebih melelahkan daripada Tawaf (maafkan fisik saya yang lemah ini, tetapi Alhamdulillah dengan semangat yang tersisa saya bisa menyelesaikannya). Terakhir setelah melakukan Sa'i, masing-masing dari kami memotong rambut yang berarti namanya Tahallul. Alhamdulillah ibadah umroh selesai dilaksanakan pas pada saat adzan Shubuh berkumandang pukul 05:30 dan kami kembali ke hotel setelah Shalat Shubuh.

Berfoto setelah melakukan ibadah Ihram

Oh ya, jarak hotel kami tempat menginap ke Masjidil Haram itu kurang lebih 5 km (melewati 2 terowongan) yang berarti kami harus menggunakan bis setiap kali akan ke Masjidil Haram, namun tidak usah khawatir karena kota Mekah menyediakan bis gratis alias free alias tidak dipungut biaya (hanya bis bernomor 228, selain nomor itu dipungut biaya alias berbayar), namun jangan kaget apabila di dalam bis berdesak-desakan sampai tidak ada ruang untuk bergerak (namanya juga gratis hehe) dan cara untuk bisa naik ke dalam bis pun harus berebut dengan orang-orang berpostur besar (Turki, Pakistan, India dan Sudan) yang sudah dipastikan kita akan kalah telak dengan mereka, jadi diharapkan lebih baik kita mengisi amunisi sebelum berangkat ke Masjidil Haram atau jika memungkinkan membawa perbekalan juga karena dijamin berangkat maupun pulang keadaan bis sama penuhnya. Pada saat kami menunggu bis, kami diperlihatkan pemandangan rumah Nabi Muhammad di depan Masjidil Haram, tempat tinggal yang ditempati selagi beliau berada di Mekah, kecil dan sederhana, sesederhana pribadi Rasulullah.

Bangunan kecil putih di atas bukit kecil yang dipercaya sebagai tempat tinggal Rasulullah

Kami diberi waktu untuk beristirahat setelah berihram, tetapi bagi jamaah yang ingin kembali ke Masjidil Haram diperbolehkan dengan pergi secara rombongan. Sayapun dan yang lainnya tidak ingin melewatkan Shalat 5 waktu dan minum air zam-zam di Masjidil Haram. By the way air zam-zam di Masjidil Haram lebih melimpah ruah (sama seperti namanya, zam-zam yang artinya melimpah ruah) dibanding di Madina, kenapa? Karena sumurnya sendiri berada di sebelah tenggara berjarak 11 m dari Ka'bah dengan kedalaman 42 meter, ia dapat menyedot air sebanyak 11-18,5 liter per detik, sehingga dapat menghasilkan 660 liter air permenit dan 39.600 liter per jamnya. Masjidil Haram sendiri dapat menampung jamaah sebanyak 820.000 pada saat musim haji dan bisa dua kali lipat pada saat Shalat Ied. Melaksanakan shalat di Masjidil Haram sama dengan 100.000x shalat di masjid lainnya sedangkan shalat di Masjid Nabawi sama dengan 1000x shalat di masjid lainnya. Jika ditanya mengenai seluk beluk atau tata letak Masjidil Haram, jujur sayapun tidak hafal dengan masjid yang luasnya kurang lebih 350.000 meter persegi itu, dimana itu arah pintu masuk ataupun arah pintu keluar, saya benar-benar tidak tahu, tetapi ada satu yang menjadi patokan apabila kita tersesat, sebut saja babussalam yang artinya "Pintu Selamat Datang" apabila kita menyebutkan babussalam, polisi Masjid akan menunjukkan jalan keluarnya dan di dekat babussalam juga ada kerajaan yang merupakan tempat tinggal Raja Salman. Alangkah baiknya bagi yang tidak hafal akan tata letak Masjidil Haram untuk tidak berpisah jauh dengan rombongan.

Berfoto diantara Babussalam dan kerajaan King Salman

 - Day six
Di hari ke enam ini akan di isi dengan city tour kota Mekah dan kemudian Ihram lagi, bedanya ihram yang dilakukan adalah ihram badal atau ihram pengganti, apabila ada orang tua atau kakak adik yang ingin diihramkan oleh kita, itu bisa dilakukan. Untuk city tour kali ini kami mengunjungi Jabal Rahmah dan padang Arafah. Untuk padang Arafah sendiri kami hanya melewatinya saja, padang Arafah ini adalah tempat para jamaah haji berwukuf, sedangkan Jabal Rahmah yang letaknya sebelah timur padang Arafah adalah tempat di mana Siti Hawa dan Nabi Adam dipertemukan pertama kali di muka bumi setelah Nabi adam diturunkan dari surga di India sedangkan Siti Hawa di Jeddah. Saya dan rombongan di izinkan mendaki Jabal Rahmah hingga ke puncak. Di puncak Jabal Rahmah sendiri terdapat tugu yang didirikan oleh Negara Arab Saudi sebagai monumen untuk mengingatkan kejadian Nabi Adam dan Siti Hawa, sayangnya terkadang dulu tugu tersebut disalah gunakan sebagai penyembahan berhala.

Jabal Rahmah dengan tugu di puncaknya

Dari Jabal Rahmah kami menuju Masjid Ji'ronah untuk mengambil Miqat (niat ihram badal) yang jaraknya 26 km dari kota Mekah (sekali lagi, miqat diambil di luar kota Mekah). Sepanjang jalan menuju Masjid Ji'ronah, kami melewati Jabal Nur yang dipercaya sebagai tempat dimana Nabi Muhammad menerima wahyu pertama yaitu diturunkannya ayat 1-5 dari surat Al-'alaq oleh Allah SWT. Di Jabal Nur terdapat Goa kecil yang disebut goa Hira, tempat dimana Nabi Muhammad menerima wahyu tersebut. Sampai di Masjid Ji'ronah kami kembali shalat ihram dan berniat. Perlu diketahui, jika ingin mengihramkan anggota keluarga seperti ibu, ayah, adik atau kakak, niat diganti menjadi nama mereka yang ingin diihramkan. Apabila kita tidak berniat mengihramkan, tidak perlu mengucapkan niat ataupun shalat ihram, karena niat tidak sembarang diucapkan, jika sudah mengucapkan niat, ibadah ihram tidak bisa dibatalkan wajib diselesaikan hingga tuntas. Apabila hanya ingin bertawaf saja tetapi tidak ingin sa'i sebaiknya tidak mengucapkan niat ihram, untuk tawaf sendiri tidak ada niatnya, saya sendiri tidak mengambil miqat, tetapi saya ikut bertawaf karena khawatir tidak bisa menyelesaikan ihram hingga tuntas karena fisik yang sedang tidak fit. Selepas dari Masjid Ji'ronah kami kembali ke Mekah untuk melakukan ihram pengganti. Ihram selesai setelah Shalat Isya dengan tata cara yang sama seperti yang saya jelaskan di awal.

 - Day seven
Hari ketujuh diisi dengan acara bebas dimulai dengan Shalat Tahajud dan Shubuh di Masjidil Haram kemudian mampir ke pasar kaget yang selalu diadakan di sepanjang jalan pulang dari Masjidil Haram ke hotel. Pasar kaget ini diadakan setiap hari selepas Shalat Isya dan Shubuh, sungguh menyenangkan sekali setiap berkunjung ke pasar kaget ini, selain harga-harganya yang miring, para pedagangnya pun mahir berbahasa Indonesia, yang apabila kita menawar dengan harga jauh lebih rendah lagi mereka akan berkata "haram", "rugi" atau "tidak bisa makan".

Suasana pasar malam selepas Isya

Hari ini rencananya saya dan teman-teman sekamar akan kembali bertolak ke Masjidil Haram untuk mencium batu Hajar Aswad, batu yang diturunkan Allah dari Surga, batu yang dipercaya yang awal diturunkan berwarna putih hingga kini berubah menjadi hitam. Kami berangkat pukul 10:00 pagi dan sudah berpakaian ihram, karena masih pagi jamaah pun banyak sekali yang melakukan tawaf, untuk bisa mencapai Hajar Aswad tidak ada tata caranya, hanya saja kita tetap masuk melalui arah jamaah memulai Tawaf. Karena kami pergi bersama suami teman sekamar saya, beliau memiliki postur tinggi dan besar sehingga bisa membantu kami mengawal dan memberi jalan menuju Hajar Aswad, Alhamdulillah Allah memberi kami kemudahan meski jamaah banyak sekali saling dorong, kami berhasil mencium Hajar Aswad, rasanya campur aduk, senang sekaligus menangis karena teringat berbagai kejadian yang pernah terjadi dalam hidup saya, sungguh mengharukan. Kami kembali ke hotel selepas Dzuhur kemudian kembali lagi untuk Shalat Magrib dan Isya.

- Day eight
Hari ini adalah hari terakhir kami di Mekah. Tidak tahu kenapa rasanya sedikit sedih karena saya akan segera pulang ke Indonesia, bukan berarti tidak senang akan bertemu kembali dengan keluarga tetapi saya akan sangat merindukan suasana di Madina dan Mekah, rindu shalat di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, rindu Ka'bah, rindu menunggu, berebut dan berdesak-desakan di bis, rindu air zam-zam yang bisa didapatkan dengan mudah dimana-mana, rindu pasar kaget, rindu makan pagi, siang dan malam di hotel meski terkadang nasinya masih aron (belum matang), rindu bangunan kubus dan baloknya, rindu gunung-gunung bebatuan, rindu mengobrol dengan jamaah dari berbagai negara, ah rindu segala-galanya.

Sebelum meninggalkan hotel menuju Jeddah

Sebelum check out pukul 14:00 siang, pagi harinya kami pergi melakukan tawaf wada, yang berarti tawaf perpisahan sembari mengelilingi Ka'bah kami semua berharap pada suatu hari kami dapat kembali lagi ke tanah suci Mekah. Kemudian kami menuju kembali ke bandara King Abdul Aziz di Jeddah. Waktu perjalanan dari Mekah ke Jeddah hanya dua jam, sebelum pergi ke bandara kami dibawa ke pusat perbelanjaan terkenal yang berada di Jeddah, yaitu Corniche Commercial Center untuk membeli oleh-oleh, letaknya dekat sekali dengan bandara King Abdul Aziz (sekitar 15 menit).  Sebelum tiba di Corniche, kami melewati Masjid Qisas, Masjid yang dulu biasa digunakan oleh bangsa Arab untuk mengeksekusi mati atau hukuman pancung dengan cara memenggal kepala (peraturan tersebut sekarang sudah tidak berlaku). Pemenggalan kepala biasanya dilakukan setelah Shalat Jum'at dan di tempat terbuka. Qisas sendiri adalah prinsip hukum dimana mensyaratkan hukuman dengan pembalasan yang setara. Sekilas, Masjid ini tidak terlihat menyeramkan tetapi dari sejarahnya sangat menyeramkan. Tiba di Corniche kami langsung berkeliling, Toko yang paling terkenal di Corniche adalah "Toko Ali Murah", mau cari apapun di Toko ini semua pasti ada, seperti Toserba, harganyapun standar.

Salah satu jajanan di Corniche yang menyediakan "Pop Me" bukan "Pop Mie"

Setelah berkeliling berbelanja, kami menemukan Bakso Mang Oedin yang terkenal dari Bandung itu, untuk satu porsi bakso harganya 14 riyal (kalau dirupiahkan sekitar 75 ribu, harga yang fantastis untuk seporsi bakso, bukan? jika di Indonesia saya sudah dapat 7 porsi) karena sudah hampir 10 hari tidak makan makanan khas Indonesia, akhirnya kami mencicipi bakso mang Oedin tersebut, untuk rasa, masih kalah jauh dengan bakso di tanah air (menurut saya baksonya lebih ke arah baslok alias bakso cilok kalau di Indonesia).

Bakso mang Oedin dari Bandung yang melegenda di Corniche

Setelah puas berbelanja dan mengisi bahan bakar perut kamipun melanjutkan perjalanan menuju bandara pukul 20:00 malam, pesawat Garuda membawa kami pulang ke Indonesia pukul 01:00 malam waktu Arab Saudi dan tiba di tanah air pukul 15.30 sore waktu Tangerang.
Perjalanan spiritual yang melelahkan namun amat sangat menyenangkan, semoga suatu hari saya bisa kembali ke sana, Amin Yaa Robbal Alamin.

Berfoto setelah menjamak shalat Maghrib dan Isya di Corniche sebelum akhirnya menuju bandara untuk pulang kembali ke tanah air


-A-