Minggu, 31 Desember 2017

Stranger Things



Pengagum karya Stephen King? Pernah menonton film E.T (1982) karya Steven Speilberg? Atau Interstellar (2014)-nya Christoper Nolan (now he's one of my favourite director)? Atau mungkin Upside Down (2012) karya Juan Diego Solanas dan IT yang baru saja diremake Andy Muschietti?  Yass, Stranger Things seperti perpaduan film-film tersebut. Bedanya Stranger Things bukan film, melainkan tv show (serial) yang tayang di Netflix (salah satu layanan video streaming terbesar di Amerika Serikat, bukan tv cable, lebih mendekati youtube sepertinya). Sebenarnya saya dibilang jarang sekali nonton serial barat, dulu sempat beberapa mengikuti Supernatural, Heroes, Glee, Gossip Girl, Prison Break dan Good Doctor, kemudian saya kurang update karena episode nya terlalu panjang dan ada beberapa dari jalan cerita yang kurang menarik menurut saya, setelah itu saya bisa dibilang tidak pernah nonton tv show lagi.
Awalnya secara tidak sengaja saya menonton acara talk show Jimmy Fallon, saat itu guest star yang dihadirkan adalah sekelompok anak (3 laki-laki dan 1 perempuan) sekitar belasan tahun. Mereka adalah Millie Bobby Brown, Finn Wolfhard, Caleb Mclaughlin dan Gaten Materazzo. Dalam talk show tersebut sang host alias Jimmy Fallon memuji akting mereka dalam serial yang berjudul Stranger Things yang sangat terkenal atau bahasa kerennya lagi happening banget di Amerika sana dan beberapa negara lainnya. Dari obrolan yang cukup menarik itu, saya mencoba mencari tahu tentang serial Stranger Things, mulai dari sinopsis, trailer, sutradara, penulis dan para cast. Setelah saya menonton episode pertama dari season yang pertama, saya mulai addicted  episode by episode sampai akhirnya saya menyelesaikan semua episode season awal (terdiri dari 8 episode dengan durasi kurang lebih 45 menit) hanya dalam semalam saja. Dikisahkan tahun 1983 di sebuah kota yang bernama Hawkins, Indiana (fiktif) terdapat sebuah laboratorium yang diketahui penduduknya adalah milik pemerintah. Suatu malam terjadi kebocoran di dalam lab tersebut, yang mengakibatkan 'sesuatu' keluar dari lab tersebut. Pada malam yang sama sekelompok anak yang dipimpin oleh Mike Wheeler (Finn Wolfhard), dengan anggota Dustin Henderson (Gaten Materazzo), Lucas Sinclair (Caleb Mclaughlin) dan Will Byers (Noach Schnapp) sedang asyik bermain Dungeons and Dragon di basement rumah Mike, setelah 11 jam bermain ibu Mike, Mrs. Wheeler (Cara Buono) menghentikan permainan tersebut. Dustin, Lucas dan Will pulang bersama dari rumah Mike dengan mengendarai sepeda malam itu. Keesokan paginya, dikabarkan bahwa Will Byers menghilang tanpa jejak. Joyce Byers (Winona Ryder), ibu dari Will segera melaporkan kehilangan anaknya kepada pihak kepolisian. Jim Hopper (David Harbour) yang merupakan kepala polisi di kota Hawkins langsung turun tangan menangani kasus hilangnya Will Byers. Mike, Dustin dan Lucas tidak ingin tinggal diam, mereka dengan sembunyi-sembunyi mencari Will meski orang tua mereka melarangnya dengan alasan terlalu berbahaya. Di malam pertama hilangnya Will, bukan Will yang ditemukan, justru mereka menemukan seorang anak perempuan seumuran mereka di sebuah hutan yang mereka sebut Mirkwood (sebuah hutan dari novel Lord Of The Rings). Anak tersebut berkepala plontos seperti pengidap kanker, Mike memberikan nama Eleven (Millie Bobby Brown) kepada anak perempuan tersebut, karena dia memiliki semacam tato di tangannya dengan angka 011. El (kependekan dari Eleven) disembunyikan di basement rumah Mike tanpa sepengetahuan orangtuanya, sampai akhirnya Mike, Dustin dan Lucas menyadari ada yang aneh dalam diri El, selain ada orang jahat yang mengincarnya, El memiliki kekuatan telekinesis. El dapat menggerakkan benda-benda (bahkan benda berat sekalipun) dengan pikirannya dan menjelajah waktu dan keberadaan seseorang dengan mata tertutup. Selain itu, Joyce Byers dan Jim Hopper menyadari ada kejanggalan dalam kasus hilangnya Will, yang menghubungkan mereka dengan dimensi lain yang mereka sebut dengan upside down. Joyce merasa Will masih hidup karena ia bisa melakukan komunikasi dengan cara yang aneh, seperti melalui lampu, dan Hopper merasa bahwa kejanggalan dan hilangnya Will beserta beberapa orang di Hawkins ada hubungannya dengan kebocoran lab yang terjadi pada malam yang sama dengan hilangnya Will. Semua keterhubungan semakin jelas, saat Nancy Wheeler (Natalia Dyer), kakak perempuan Mike dan Jonathan Byers (Charlie Keaton), kakak laki-laki dari Will Byers melakukan beberapa investigasi mengenai 'makhluk' yang menghantui kota Hawkins selama ini. Sehingga akhirnya hilangnya Will, kemunculan El dan makhluk yang menyeramkan, semuanya bersumber dari laboratorium yang ternyata melakukan eksperimen-eksperimen di luar dugaan dan akal sehat. Season satu berakhir dengan kembalinya Will dari kematian dan El yang menghilang kembali ke upside down. Season dua baru saja rilis oktober kemarin, dan cerita berkembang ke tahun 1984, dimana Will yang hidup kembali dari kematian menjadi sebuah perbincangan besar di kota Hawkins. Dimulai dengan datangnya anak baru ke kota mereka bernama Mad Max (Saddie Sink) dan kakaknya yang kasar, Billy (Dacre Montgomery). Mad max ingin bergabung ke dalam kelompok AV club tetapi ditentang oleh ketua mereka, Mike. Mike merasa hanya El satu-satunya anak perempuan yang pantas masuk dalam kelompoknya, berbeda dengan Lucas dan Dustin yang sangat welcome dengan kedatangan Mad Max. Kemudian Will merasa masih terjebak di upside down meski dia kini sudah berada di dunia nyata, Will masih mengalami trauma yang disebut true side, dimana ia seperti memiliki penglihatan mengenai upside down. Meski sudah mengalami beberapa perawatan dan terapi, Will semakin merasa kini justru dirinya adalah monster. Will tidak berani menceritakan hal tersebut kepada ibunya, dia hanya menceritakannya kepada Mike, Mike dapat mengerti keadaan Will karena Mike pun percaya bahwa El masih hidup, meski tidak tahu dimana keberadaanya. Suatu malam, setelah Mike, lucas, Dustin dan Mad Max merayakan Halloween di sekolahnya, Dustin menemukan sebuah mahkluk aneh di tong sampah rumahnya. Mahkluk tersebut diberi nama Dart oleh Dustin, kemudian Dustin memberitahu kelompoknya mengenai Dart, ada sesuatu yang aneh ketika Will melihat Dart, Will semakin mengalami trauma hebat. Mike menyimpulkan bahwa Dart berasal dari upside down, tetapi Dustin menentang dengan keras bahwa Dart hanyalah makhluk kecil yang tersesat, sehingga suatu hari Mike memutuskan bahwa Dart berbahaya dan harus segera dilaporkan keberadaannya, tetapi Dustin menolak sampai akhirnya dia memutuskan untuk menyembunyikan Dart tanpa sepengetahuan kelompoknya. Semakin hari, ukuran Dart semakin besar dan siapa sangka dia berubah menjadi jelmaan Demogorgon (makhluk yang diceritakan pada season satu) dan dog yang disebut Demodog oleh Dustin (seperti perkawinan antara demogorgon dan anjing). Plot semakin klimaks, saat tubuh Will dijadikan inang oleh mahkluk yang berasal dari upside down, laboratorium yang secara diam-diam masih melakukan penelitian mengenai upside down, Demodogs yang semakin banyak masuk ke dalam kota Hawkins dan El yang datang kembali untuk menyelamatkan teman-temannya. Season dua ini terdiri dari 9 episode masih dengan durasi yang sama, perbedaan dari segi cerita dan cast cukup signifikan hanya saja ada satu episode yang menurut saya sepertinya tidak terlalu penting atau sebenarnya tidak tahu apa hubungannya dengan episode-episode lainnya, atau mungkin koneksinya akan terkuak di season tiga. Kabarnya season tiga sendiri sudah akan memulai syuting jadi belum tahu kapan akan ditayangkan. Saya sangat menyukai ide cerita horror thriller yang dibuat oleh sikembar Matt dan Ross Duffer (The Duffer Brothers) dan di direct langsung oleh Shawn Levy (pernah menyutradai Night at Museum, Real Steel dan yang terkenal Arrival). Cerita yang disajikan sangat apik dengan setting tahun 1980an, penuh misteri, science fiction, teka-teki dan kejutan di setiap episodenya, dan akting para cast yang benar-benar pas sesuai porsinya, tidak berlebihan. Sangat rekomen sekali untuk ditonton, hanya saja ada sedikit adegan yang kurang pantas ditonton (lebih baik diskip saja), namun dari keseluruhan cerita sangat bagus dan sedikit berbeda dari serial tv yang pernah ada. Jika ingin menonton keseluruhan episode dari season satu dan dua, dapat berlangganan aplikasi netflix atau dapat di download dari situs-situs yang menyediakan berbagai serial tv. Baiklah, selamat menonton semoga demogorgon tidak datang menculikmu ke dalam upside down seperti Will.


-A-

Rabu, 27 Desember 2017

Pengalaman Ibadah Umroh Pertama


Ini bukan termasuk ke dalam resolusi tahun ini awalnya, tetapi karena terlalu banyak hal yang mengejutkan yang terjadi selama setahun ini saya memutuskan ingin pergi ber-umroh. Dikatakan terlalu mendadak mungkin tidak, karena saya tidak memiliki banyak tabungan, dikatakan sudah direncanakan dari jauh juga tidak, karena saat itu belum terpikir akan pergi dalam jangka waktu dekat, pada intinya siapa yang tidak ingin pergi ke Rumah Allah jika ada kesempatan, jadi saya memanfaatkan kesempatan yang mungkin hanya akan datang sekali dalam seumur hidup saya. Awal tahun 2017 saya sudah mencari cari travel umroh yang bisa dicicil pembayarannya perbulan sekitar Rp.1.000.000,-. Saya menemukan travel sesuai harapan, tidak terlalu mahal (karena dana saya terbatas) dan tidak terlalu murah (mengingat banyak sekali penawaran termurah pada ujung-ujungnya terkena tipu). Saya harus rela menyisihkan sebagian gaji saya, walaupun pada saat itu saya fikir tidak masalah jika harus berangkat 2 tahun lagi atau kapanpun saya bisa melunasinya. Mendekati akhir tahun saya berubah pikiran, tidak tahu bagaimana caranya saya harus berangkat tahun ini juga. Dengan susah payah akhir oktober saya melunasi pembayaran dan melengkapi berkas yang dibutuhkan seperti passpor (kebetulan saya sudah punya sejak lama meski masih polos bersih belum terisi), pas foto, kartu meningitis (waktu itu saya suntik meningitis di RS Fatmawati dengan biaya Rp. 300.000,-), KTP, kartu keluarga dan akta kelahiran. Dan Alhamdulillah, saya berangkat di akhir november.
Tidak banyak persiapan yang saya lakukan, karena saya sendiri tipikal orang yang malas membawa banyak barang, jadi saya membawa perlengkapan secukupnya dan yang benar-benar dibutuhkan. Berikut beberapa perlengkapan yang saya persiapkan:
1. Pakaian ihram sebanyak 2
2. Atasan mukena, kenapa hanya atasan? Karena pada umumnya para wanita di Arab biasanya selalu sholat hanya dengan pakaian yang menempel pada tubuhnya, mengingat mereka selalu memakai pakaian yang tertutup dari atas kepala sampai ujung kaki, pun dengan saya yang akan memakai pakaian seperti itu
3. Jaket dan sweater masing-masing satu.
4. Gamis untuk pakaian ganti sebanyak 3
5. Tunik 1 dan celana panjang 3 sebagai pakaian dalam gamis
6. Kulot dan kaos serta gamis masing-masing 1 (untuk pakaian tidur)
7. Pakaian dalam bawa sekitar 5 pasang, karena saya menggunakan pentiliner untuk mengurangi beban bawaan yang berlebihan
8. Perlengkapan mandi (meskipun pihak hotel biasanya menyediakan, alangkah lebih baik apabila kita juga membawa sendiri)
9. Obat-obatan yang biasa dikonsumsi serta vitamin suplemen untuk menjaga daya tahan tubuh pada saat di sana
10. Kaos kaki 4 dan sarung tangan 1
11. Kerudung siap pakai 4 dan jilbab 3
Itu yang menurut saya perlengkapan paling penting, tambahan lainnya mungkin seperti kacamata hitam, tissue basah, tissue kering, payung, pelembab kulit maupun wajah dan perlengkapan wanita lainnya yang memungkinkan dibutuhkan. Dan yang tak kalah penting pastinya uang (rupiah dan riyal) dan smartphone (berikut charger dan power bank). Untuk uang riyal sebaiknya di tukar di tanah air saja, karena untuk mempermudah dan sudah pasti nilai beli yang berbeda antara di Indonesia dan Saudi Arabia. Kita bisa menukarnya di Bank atau Money Changer. Kebetulan saya menukarnya di Money Changer, karena lebih simpel dan tidak ribet ketimbang di Bank, dari nilai beli pun lebih murah dibanding Bank. Nilai beli pada saat saya menukar riyal adalah Rp. 3.785 untuk pecahan 100 dan Rp. 3.830 untuk pecahan 50, 10 dan 5, yang membedakan harganya mungkin dari tingkat kelangkaan, karena apabila kita menukar uang riyal di tanah air lebih banyak tersedia pecahan besar seperti 500 dan 100 ketimbang pecahan kecil seperti 50, 10 dan 5, bahkan untuk pecahan 1 riyal pun sudah dibilang tidak dapat ditemukan lagi di Indonesia, jika adapun jumlahnya sedikit. Saya sendiri membawa 1000 riyal dengan pecahan 100, 50, 10 dan 5, selain uang riyal saya juga membawa cash rupiah sebesar 1 juta, menurut saya cukup, karena mengingat saya datang ke sana bukan untuk wisata melainkan untuk ibadah. Kemudian Smartphone, smartphone sangatlah penting, bukan untuk sekedar foto-foto, karena untuk pemerintah Arab Saudi sendiri kini sudah mengeluarkan peraturan dimana jamaah dilarang untuk berselfie atau wefie ria di sekitar Ka'bah atau  tempat peribadahan lainnya yang akan mengakibatkan suasana ibadah tidak khusuk (tetapi pada kenyataannya saya dan yang lainnya masih tetap mencuri-curi foto, karena sepertinya sayang sekali jika melewatkan pengalaman ini tanpa adanya dokumentasi, meski harus ada tragedi kejar-kejaran dengan askar alias polisi penjaga Masjid, hehe). Keberadaan smartphone disini untuk mempermudah komunikasi pada saat di sana dengan sesama jamaah lainnya ataupun komunikasi dengan keluarga di tanah air, saya menggunakan roaming paket umroh 9 hari dari telkomsel sebesar Rp. 275.000 (5gb) dan sudah diaktifkan secara otomatis pada tanggal sesuai keberangkatan setelah saya melakukan reservasi terlebih dahulu ke galeri grapari telkomsel. Saya sarankan untuk tidak membeli kartu perdana di Arab Saudi, karena kebanyakan teman-teman saya yang membeli di sana sama sekali tidak berfungsi, entah dari kartu GSM yang berbeda dari yang sering digunakan di Indonesia atau ada beberapa yang tidak support di smartphone yang digunakan.
Tiba keberangkatan tanggal 27 november, saya berangkat ke bandara soetta setelah magrib, karena saya dan para jamaah lainnya diwajibkan berkumpul pukul 20.00 untuk latihan manasik yang kedua kalinya (untuk latihan manasik pertama kebetulan saya tidak bisa hadir). Setelah menunggu di lounge umroh kurang lebih 2 jam, akhirnya kami semua berangkat menuju bandara sekitar pukul 22.00. Seperti biasa sebelum masuk pesawat kita melakukan beberapa pengecekan, dan pesawatpun lepas landas tepat pukul 00.30 malam waktu bagian Tangerang. Dengan menggunakan pesawat Citilink perjalanan memakan waktu kurang lebih 12 jam dikarenakan pesawat transit terlebih dahulu di bandara Ahmedabad, India, selama 40 menit untuk pengisian bahan bakar. Kami tiba di bandara King Abdul Aziz, Jeddah, pada pukul 09.30 pagi waktu bagian Arab Saudi. Satu hal yang membuat saya takjub sampai saat ini adalah perbedaan waktu, bumi yang berputar pada porosnya, selain mengakibatkan adanya siang dan malam dan perbedaan gravitasi bumi, juga berpengaruh pada perbedaan waktu. Perbedaan waktu antara Indonesia dan Arab Saudi adalah 4 jam lebih lambat di Arab Saudi dibanding Indonesia, itu berarti ketika kami sampai pukul 09.30 pagi di Arab Saudi berarti pukul 13.30 siang di Indonesia. Tibanya kami di Jeddah merupakan hari pertama dari total 9 hari rangkaian perjalanan umroh, dan dari Jeddah pula kami diantar menggunakan bis wisata yang sudah didampingi oleh pemandu untuk pergi ke Kota Madinah. Perjalanan dari Kota Jeddah ke Madinah kurang lebih 6 jam (normalnya, tanpa macet dan berhenti di rest area). Sepanjang jalan menuju Kota Madinah selain disuguhi cuaca yang panas, saya pun disuguhi pemandangan gurun, gunung bebatuan serta bangunan kubus dan balok (rata-rata begitulah bentuk rumah dan bangunan di Arab Saudi), dan satu lagi pemandangan yang tidak biasa yaitu banyaknya monyet berbokong merah (jika di Indonesia disebut Yaki, biasanya dapat ditemukan di daerah Sulawesi, itupun sudah langka keberadaannya) di pinggir jalan raya, konon katanya pada saat banjir bandang di Jeddah kemarin mengakibatkan satwa tersebut terbawa arus ke daerah-daerah pemukiman warga dan jalan-jalan raya (mungkin karena sulit juga menemukan pepohonan di daerah sana yang merupakan habitat asli para satwa tersebut). 

Bangunan di Arab Saudi, saat pertama kali tiba di Jeddah

Monyet berbokong merah yang meminta-minta makanan

Saya dan jamaah lainnya tiba di kota Madinah pukul 17.30, kami langsung diantar ke hotel tempat kami menginap yaitu Luxurious Al-Rawdah Suite Hotel yang jarak dari hotel ini ke Masjid Nabawi kurang lebih 100 km dengan berjalan kaki, cukup dekat, saat kami keluar dari pintu lobi hotel pun, kami sudah disuguhi dengan megahnya pemandangan Masjid Nabawi. 

Hotel tempat kami menginap di Madinah

Sedikit history tentang Masjid Nabawi, Masjid yang biasa disebut juga dengan Masjid Nabi ini adalah peninggalan Nabi Muhammad SAW karena didirikan langsung oleh Beliau. Dulu Masjid ini juga digunakan sebagai tempat tinggal Nabi Muhammad selama beliau berada di Kota Madinah, hingga sebelum akhir hayat nya pun beliau sudah berpesan agar beliau dimakamkan di Masjid Nabawi yang saat ini makam tersebut dinamakan Raudhah yang dalam bahasa indonesia artinya "Taman". Masjid ini menjadi tempat paling suci kedua dan terbesar di dunia kedua setelah Masjidil Haram di Mekah. Masjid ini terbuka untuk umum selama 24 jam, untuk keramaiannya pun tidak perlu dipertanyakan lagi, 24 jam nonstop, even itu tengah malam sekalipun.

Pemandangan Masjid Nabawi malam hari

Okay lets we start from the second day in Madina

- Day two
Hari kedua di Kota Madinah kami melakukan city tour ke beberapa tempat seperti berkunjung ke Masjid Quba yang jaraknya 5 km dari pusat kota Madinah. Masjid Quba merupakan Masjid pertama yang dibangun Rasulullah semenjak beliau hijrah ke Madinah. Di masjid ini kami diberikan waktu untuk melaksanakan Shalat Tahiyatul Masjid dan Shalat Dhuha, banyaknya jamaah yang sedang berkunjung untuk sholat sehingga saya tidak dapat solat di dalam Masjid, hanya di pelataran  saja, dan kami berada di sana tidak lebih dari satu jam.

Masjid Quba yang jaraknya 5 km dari hotel

Persinggahan kedua yaitu Kebun Kurma yang hanya butuh 5 menit perjalanan dari Masjid Quba. Di sini ada kurang lebih 1600 pohon kurma dan diperkirakan sudah ada sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Selain ada kebun kurma di tempat ini juga tersedia pasar tempat menjual oleh-oleh khas Arab yang pasti semuanya sudah tahu apa saja itu.

Kebun kurma yang luasnya 25 hektar

Selepas kami berbelanja kami berziarah ke Jabal Uhud yang merupakan pemakaman para Syuhada. Uhud sendiri artinya menyendiri, karena bukit ini berbeda dari bukit-bukit lainnya yang ada di Madinah yang pada umumnya saling menyambung, tetapi Jabal Uhud ini keberadaanya menyendiri tidak saling menyambung. Uhud diambil dari nama sebuah peperangan yaitu perang Uhud yang terjadi sekitar tahun 3H, dimana kaum muslimin sebanyak 700 orang melawan kaum musyrikin sebanyak 3000 orang, dan dari perang Uhud tersebut wafat 70 syuhada termasuk paman Nabi Muhammad yaitu Hamzah Bin Abdul Munthalib, yang kemudian para syuhada tersebut dimakamkan di bukit Uhud.

Jabal Uhud tempat 70 syuhada dimakamkan

City tour berakhir sore hari, selanjutnya kami dapat melakukan ibadah masing-masing. Karena jarak hotel ke Masjid Nabawi yang sangat dekat, saya dan teman-teman sekamar berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan Shalat 5 waktu di Masjid Nabawi, sepertinya sayang sekali jauh-jauh ke Madinah tetapi melewatkan Shalat di Masjid Nabawi. Berbicara teman sekamar, teman sekamar saya terdiri dari 4 orang, mereka adalah Mama Ajeng dan Mama Sri dari Cirebon, Mama Aden dan anaknya yang bernama Livia dari Banten. Mungkin kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu, tetapi percaya atau tidak, saya lebih menyukai mereka dibanding dengan orang-orang yang lebih muda, karena mereka lebih  tahu kegiatan yang harus diprioritaskan, selain itu mereka pribadi-pribadi yang menyenangkan layaknya para ibu di dunia, selalu hangat.

My roomate

Kembali lagi ke Masjid Nabawi, bagi yang ingin mendapatkan Shaf paling depan di Masjid Nabawi ini diharapkan untuk datang satu jam lebih awal atau minimal setengah jam dari berkumandangnya adzan, dikarenakan banyaknya jumlah jamaah yang ingin Shalat di sana. Pernah sekali saat saya baru datang di Madina, saya dan teman-teman sekamar datang ke Masjid untuk Shalat Maghrib pas pada saat adzan berkumandang, alhasil, kami hanya shalat di depan gerbangnya saja (di luar dekat pertokoan) padahal adzan baru saja berkumandang, tetapi kami sudah kehabisan tempat, pada intinya kita tidak bisa berleha-leha jika ingin mendapatkan shaf di dalam Masjid. Di hari pertama ini juga pada malam harinya kami akan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW yang berada di dalam Masjid Nabawi. Ada beberapa tata cara untuk berziarah ke Makam Rasulullah, singkatnya, jamaah laki-laki dan perempuan terpisah, selain itu setiap rombongan harus dibimbing oleh ustadz/ustadzah dalam kata lain pemandu yang sudah  paham dengan peraturannya.  Makam Rasulullah berada di samping makam Abu Bakar Assidiq dan Umar Bin Khatab, jadi pada saat kita memasuki Raudhah setelah Shalat Tahiyyatul Masjid kita mundur satu hasta lalu bergerak ke arah kanan untuk mengucapkan salam kepada Abu Bakar Assidiq kemudian mundur lagi satu hasta dan bergerak lagi ke arah kanan untuk mengucapkan salam kepada Umar Bin Khatab. Rombongan perempuan kami dipimpin oleh ustadzah yang berasal dari Indonesia juga, sebelum kami masuk ke dalam Raudhah diwajibkan memiliki wudhu karena kami akan masuk ke tempat yang suci dan sebisa mungkin sebanyak-banyaknya kita mengucapkan shalawat pada saat memasuki Raudhah. Raudhah sendiri berada di paling depan Masjid Nabawi dengan beralaskan karpet/sejadah berwarna hijau (karena karpet yang lainnya berwarna merah) dekat dengan mimbar. Jika kita sudah menginjak karpet berwarna hijau tersebut berarti kita sudah berada di Raudhah. Pada saat berada di Makam Rasulullah kita bisa melakukan shalat dua rakaat jika ada waktu, shalat apapun itu, bisa Shalat Taubat, Shalat Hajat atau shalat sunah lainnya, jika tidak memungkinkan untuk shalat kita bisa berdoa apa saja karena makam Rasulullah merupakan tempat yang paling diijabah jika kita berdoa. Untuk waktu sangat terbatas, kami hanya diberi waktu sekitar 3 menit untuk shalat atau berdoa karena harus bergiliran dengan jamaah lainnya. Larangan lainnya yang tidak boleh dilakukan di dalam Raudhah adalah mengusap atau mencium makam Rasulullah (khawatir termasuk ke dalam kategori syirik). Di dalam Raudhah sudah dipastikan akan saling berdesakan dan berdorongan saking banyaknya jamaah yang ingin berziarah, jika kita di dorong atau didesak oleh orang lain, di usahakan untuk tidak marah atau mengeluarkan kata-kata tidak sopan, karena itu sangat dilarang, jadi sebaiknya kita terus membaca sholawat ketimbang marah-marah. Karena saya berada di barisan paling depan rombongan, Alhamdulillah dengan bantuan ustadzah kami, yang berada di depan kami, saya bisa melakukan shalat meski jamaah yang lainnya terus saja mendorong-dorong dari belakang, selesai shalat saya langsung menuju jalan keluar yang ditunjukkan oleh salah satu polisi wanita, dengan susah payah akhirnya saya bisa keluar dari Makam Rasulullah dan menunggu rombongan di area jalan keluar. Ada 3 waktu yang disediakan Masjid Nabawi untuk berziarah, yaitu setelah Shalat Shubuh, setelah Shalat Dzuhur dan setelah Shalat Isya. Setiap harinya dari 3 waktu tersebut, peziarah selalu penuh berdatangan dari berbagai penjuru dunia dan menurut saya, berziarah ke Makam Rasulullah merupakan pengalaman yang paling berkesan setelah melihat Ka'bah, sayangnya saya tidak bisa mengabadikan moment tersebut karena dilarang mengambil foto dengan cara apapun. Selesai berziarah kami kembali ke hotel sekitar setengah satu malam, setelah dua jam tidur, saya dan teman-teman sekamar kembali lagi ke Masjid Nabawi pukul 03:30 untuk Shalat Tahajud.

- Day three
Hari ketiga dimulai dari saya dan dua teman sekamar saya Shalat Tahajud pukul 03:30 malam, pengalaman di hari kedua saya Shalat Tahajud, saya pergi ke Masjid pukul 01.30 malam, karena jam itu adalah jam-jam sepertiga malam sama halnya seperti di Indonesia, tapi ternyata itu terlalu malam, karena dari jam itu menuju Shubuh masih terlalu lama. Adzan dikumandangkan dua kali, adzan pertama pukul 04:00 yang kata orang adzan tersebut menandakan untuk Shalat Tahajud dan adzan yang kedua pukul 06:30 sendiri untuk Shalat Shubuh, which is dari 01:30 ke 05:30 masih ada kurang lebih 4 jam. Sebenarnya kita bisa saja tidur untuk menunggu waktu seperti jamaah lainnya, tapi sepertinya sayang sekali jika pergi ke Masjid hanya untuk tidur. Akhirnya dari pengalaman tersebut kita coba atur ulang alarm, yakni pukul 03:00 kita bangun untuk mandi dan siap-siap, pukul 03:30 kita pergi ke Masjid. Setiap kali kami masuk Masjid, polisi wanita selalu memeriksa isi tas yang kami bawa di pintu masuk, dan sebelum mencari spot tempat Shalat kami selalu menyempatkan minum air zam-zam yang sepertinya jumlahnya ratusan atau mungkin bisa mencapai seribu galon berderet rapi mulai dari arah masuk sampai depan Raudhah, bahkan kini sudah menjangkau setiap sudut Masjid, konon katanya, setiap harinya Masjid Nabawi ini memasok 300 ton air zam-zam untuk kebutuhan jamaahnya. Ada hal menakjubkan yang baru saya sadari pada saat di dalam Masjid, yakni kubah Masjid yang terbuka secara otomatis ketika adzan shubuh berkumandang, karena pada saat itu tempat shalat saya tepat di bawah kubah Masjid, Subhanallah, saya dapat menyaksikan terbukanya kubah tersebut secara langsung dan shalat beratapkan langit malam yang indah.

Kubah Masjid Nabawi yang terbuka otomatis saat adzan Shubuh ke-2

Setiap kali selesai Shalat Shubuh, selalu disambung dengan Shalat Jenazah, yang diperuntukkan bagi seluruh muslim di penjuru dunia yang meninggal setiap harinya. 
Ada yang menarik setiap kali keluar Masjid setelah Shalat Shubuh, yaitu pertokoan ataupun pedagang dadakan yang sudah buka pagi-pagi buta untuk menawarkan dagangannya kepada para jamaah yang baru saja pulang Shalat Shubuh, tidak tahu mulai dari jam berapa sampai jam berapa toko mereka buka, yang pasti pada saat adzan berkumandang toko mereka tutup dan berbondong-bondong pergi ke Masjid untuk menunaikan ibadah Shalat. Saat itu kamipun tidak mau ketinggalan untuk melihat-lihat dan berbelanja. Di hari ketiga ini kegiatan diisi secara bebas, kami bisa memutuskan pergi ke tempat-tempat yang ingin dikunjungi baik secara pribadi atau rombongan (tidak disarankan untuk wanita pergi sendiri tanpa mahrom, karena sangat berbahaya, apalagi jika tidak tahu arah pulang ke hotel, itu sebabnya masing-masing dari kami dibekali kartu nama hotel untuk berjaga-jaga apabila tersesat bisa menunjukan kartu nama tersebut kepada orang setempat untuk ditunjukan letak hotel kami menginap) ataupun ingin memilih stay di hotel untuk beristirahat. Kegiatan yang kami isi tidak begitu banyak, hanya jalan-jalan di sekitar hotel, berburu oleh-oleh dan menghabiskan waktu di Masjid Nabawi.

- Day four
Ini adalah hari terakhir kami berada di Madinah. Kami akan bertolak ke Mekah setelah Shalat Jum'at. Hal menarik lainnya yang saya temukan di sini adalah perempuan diperbolehkan untuk mengikuti Shalat Jum'at di Masjid Nabawi (yang berarti bagi wanita pun 2 rakaat Shalat Jumat sudah menggantikan 4 rakaat Shalat Dzuhur), bagi saya, ini pertama kalinya saya mengikuti Shalat Jum'at. Sebelum Shalat Jum'at kami disunahkan untuk mandi ihram, karena setelah Shalat Jum'at (pukul 15:00) kami segera check out dari hotel menuju Mekah, namun sebelumnya kami akan melakukan Shalat Ihram dan mengambil niat ihram di Masjid Bir'ali yang letaknya 9 km dari kota Madinah. Shalat dan niat Ihram (miqat) wajib dilakukan di luar tanah haram, yakni di luar kota Mekah.

Suasana Masjid Bir'ali pada saat pengambilan Miqat

Perjalanan dari kota Madinah ke kota Mekah membutuhkan waktu kurang lebih 6 jam, karena kami melakukan miqat terlebih dahulu di Masjid Bir'ali tadi, akhirnya kami sampai di kota Mekah tengah malam pukul 00:00. Sesampainya di hotel Barakat Burhan (hotel tempat kami menginap di Mekah), kami langsung makan malam, karena sudah tengah malam, jatah makan malampun sudah habis, sebagai gantinya pihak hotel memesankan kami makanan siap saji, namanya Al-baik, semacam paket makan Mcdonal atau KFC, yang membuat saya terkejut adalah porsinya (mungkin sudah disesuaikan dengan porsi orang-orang Arab), isinya sekitar 5-6 potong ayam dengan ukuran besar, kentang french fries dan satu roti bun (roti burger), dan saya hanya bisa menghabiskan satu potong ayam.

Al-baik, makanan cepat sajinya orang Arab

- Day five
Ihram dilakukan malam hari pukul 01:30 malam untuk menghindari banyaknya jamaah lain yang akan melakukan ihram. Inilah intinya ihram, hanya ada di satu hari dan dilakukan kurang lebih 4-5 jam, dan ihram itu intinya ada 3 hal, yakni tawaf (mengelilingi Ka'bah 7x), sa'i (berlari-lari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwah 7x) dan tahallul (memotong rambut minimal 3 helai). Pertama kali saya masuk ke Masjidil Haram, perasaan saya senang luar biasa, apalagi pada saat akan melakukan Tawaf (the first time I've seen Ka'bah, and it was really huge), tidak bisa diucapkan dengan kata-kata yang ada hanya rasa takjub secara terus menerus, karena di sinilah pusat umat manusia (muslim) dari seluruh dunia bersujud.

Suasana pertama kali kami mengunjungi Masjidil Haram

Jangan pernah bertanya kepada orang Mekah di mana arah kiblat karena mereka sama sekali tidak tahu, yang mereka tahu hanya arah Ka'bah, samping kanan kiri dan atas belakang. Kembali ke ihram, dengan di pandu ustadz, kami melakukan tawaf sebanyak 7x, sebelumnya kami diperingatkan untuk tidak menyentuh Ka'bah, karena Ka'bah itu wangi, sedangkan kita yang sudah berniat ihram diharamkan memakai atau menyentuh wewangian, dan ihram kita tidak sah, jika tidak sah kita wajib membayar denda, jadi alangkah baiknya apabila kita ingin menyentuh Ka'bah atau mencium Hajar Aswad dilakukan setelah ibadah ihram selesai. Tawaf dilakukan berlawanan arah jarum (it means the left shoulder facing to Ka'bah). Menyenangkan sekali melakukan ihram di tengah malam, karena udaranya sejuk sekali dan jamaah yang melakukan tawafpun terbilang banyak namun tidak padat.

Suasana Tawaf tengah malam

Selesai Tawaf, kami langsung menuju Shafa Marwah untuk melakukan Sa'i. Bukit Shafa Marwah ini adalah sejarah mengenai Siti Hajar yang mencari-cari sumber air untuk diminumkan kepada Nabi Ismail, setelah 7x berlari-lari dari Shafa ke Marwah muncullah air zam-zam. Jarak Shafa ke Marwah adalah 350 meter, which is apabila kita melakukan sebanyak 7x jaraknya kurang lebih 3,15 km. Menurut saya Sa'i lebih melelahkan daripada Tawaf (maafkan fisik saya yang lemah ini, tetapi Alhamdulillah dengan semangat yang tersisa saya bisa menyelesaikannya). Terakhir setelah melakukan Sa'i, masing-masing dari kami memotong rambut yang berarti namanya Tahallul. Alhamdulillah ibadah umroh selesai dilaksanakan pas pada saat adzan Shubuh berkumandang pukul 05:30 dan kami kembali ke hotel setelah Shalat Shubuh.

Berfoto setelah melakukan ibadah Ihram

Oh ya, jarak hotel kami tempat menginap ke Masjidil Haram itu kurang lebih 5 km (melewati 2 terowongan) yang berarti kami harus menggunakan bis setiap kali akan ke Masjidil Haram, namun tidak usah khawatir karena kota Mekah menyediakan bis gratis alias free alias tidak dipungut biaya (hanya bis bernomor 228, selain nomor itu dipungut biaya alias berbayar), namun jangan kaget apabila di dalam bis berdesak-desakan sampai tidak ada ruang untuk bergerak (namanya juga gratis hehe) dan cara untuk bisa naik ke dalam bis pun harus berebut dengan orang-orang berpostur besar (Turki, Pakistan, India dan Sudan) yang sudah dipastikan kita akan kalah telak dengan mereka, jadi diharapkan lebih baik kita mengisi amunisi sebelum berangkat ke Masjidil Haram atau jika memungkinkan membawa perbekalan juga karena dijamin berangkat maupun pulang keadaan bis sama penuhnya. Pada saat kami menunggu bis, kami diperlihatkan pemandangan rumah Nabi Muhammad di depan Masjidil Haram, tempat tinggal yang ditempati selagi beliau berada di Mekah, kecil dan sederhana, sesederhana pribadi Rasulullah.

Bangunan kecil putih di atas bukit kecil yang dipercaya sebagai tempat tinggal Rasulullah

Kami diberi waktu untuk beristirahat setelah berihram, tetapi bagi jamaah yang ingin kembali ke Masjidil Haram diperbolehkan dengan pergi secara rombongan. Sayapun dan yang lainnya tidak ingin melewatkan Shalat 5 waktu dan minum air zam-zam di Masjidil Haram. By the way air zam-zam di Masjidil Haram lebih melimpah ruah (sama seperti namanya, zam-zam yang artinya melimpah ruah) dibanding di Madina, kenapa? Karena sumurnya sendiri berada di sebelah tenggara berjarak 11 m dari Ka'bah dengan kedalaman 42 meter, ia dapat menyedot air sebanyak 11-18,5 liter per detik, sehingga dapat menghasilkan 660 liter air permenit dan 39.600 liter per jamnya. Masjidil Haram sendiri dapat menampung jamaah sebanyak 820.000 pada saat musim haji dan bisa dua kali lipat pada saat Shalat Ied. Melaksanakan shalat di Masjidil Haram sama dengan 100.000x shalat di masjid lainnya sedangkan shalat di Masjid Nabawi sama dengan 1000x shalat di masjid lainnya. Jika ditanya mengenai seluk beluk atau tata letak Masjidil Haram, jujur sayapun tidak hafal dengan masjid yang luasnya kurang lebih 350.000 meter persegi itu, dimana itu arah pintu masuk ataupun arah pintu keluar, saya benar-benar tidak tahu, tetapi ada satu yang menjadi patokan apabila kita tersesat, sebut saja babussalam yang artinya "Pintu Selamat Datang" apabila kita menyebutkan babussalam, polisi Masjid akan menunjukkan jalan keluarnya dan di dekat babussalam juga ada kerajaan yang merupakan tempat tinggal Raja Salman. Alangkah baiknya bagi yang tidak hafal akan tata letak Masjidil Haram untuk tidak berpisah jauh dengan rombongan.

Berfoto diantara Babussalam dan kerajaan King Salman

 - Day six
Di hari ke enam ini akan di isi dengan city tour kota Mekah dan kemudian Ihram lagi, bedanya ihram yang dilakukan adalah ihram badal atau ihram pengganti, apabila ada orang tua atau kakak adik yang ingin diihramkan oleh kita, itu bisa dilakukan. Untuk city tour kali ini kami mengunjungi Jabal Rahmah dan padang Arafah. Untuk padang Arafah sendiri kami hanya melewatinya saja, padang Arafah ini adalah tempat para jamaah haji berwukuf, sedangkan Jabal Rahmah yang letaknya sebelah timur padang Arafah adalah tempat di mana Siti Hawa dan Nabi Adam dipertemukan pertama kali di muka bumi setelah Nabi adam diturunkan dari surga di India sedangkan Siti Hawa di Jeddah. Saya dan rombongan di izinkan mendaki Jabal Rahmah hingga ke puncak. Di puncak Jabal Rahmah sendiri terdapat tugu yang didirikan oleh Negara Arab Saudi sebagai monumen untuk mengingatkan kejadian Nabi Adam dan Siti Hawa, sayangnya terkadang dulu tugu tersebut disalah gunakan sebagai penyembahan berhala.

Jabal Rahmah dengan tugu di puncaknya

Dari Jabal Rahmah kami menuju Masjid Ji'ronah untuk mengambil Miqat (niat ihram badal) yang jaraknya 26 km dari kota Mekah (sekali lagi, miqat diambil di luar kota Mekah). Sepanjang jalan menuju Masjid Ji'ronah, kami melewati Jabal Nur yang dipercaya sebagai tempat dimana Nabi Muhammad menerima wahyu pertama yaitu diturunkannya ayat 1-5 dari surat Al-'alaq oleh Allah SWT. Di Jabal Nur terdapat Goa kecil yang disebut goa Hira, tempat dimana Nabi Muhammad menerima wahyu tersebut. Sampai di Masjid Ji'ronah kami kembali shalat ihram dan berniat. Perlu diketahui, jika ingin mengihramkan anggota keluarga seperti ibu, ayah, adik atau kakak, niat diganti menjadi nama mereka yang ingin diihramkan. Apabila kita tidak berniat mengihramkan, tidak perlu mengucapkan niat ataupun shalat ihram, karena niat tidak sembarang diucapkan, jika sudah mengucapkan niat, ibadah ihram tidak bisa dibatalkan wajib diselesaikan hingga tuntas. Apabila hanya ingin bertawaf saja tetapi tidak ingin sa'i sebaiknya tidak mengucapkan niat ihram, untuk tawaf sendiri tidak ada niatnya, saya sendiri tidak mengambil miqat, tetapi saya ikut bertawaf karena khawatir tidak bisa menyelesaikan ihram hingga tuntas karena fisik yang sedang tidak fit. Selepas dari Masjid Ji'ronah kami kembali ke Mekah untuk melakukan ihram pengganti. Ihram selesai setelah Shalat Isya dengan tata cara yang sama seperti yang saya jelaskan di awal.

 - Day seven
Hari ketujuh diisi dengan acara bebas dimulai dengan Shalat Tahajud dan Shubuh di Masjidil Haram kemudian mampir ke pasar kaget yang selalu diadakan di sepanjang jalan pulang dari Masjidil Haram ke hotel. Pasar kaget ini diadakan setiap hari selepas Shalat Isya dan Shubuh, sungguh menyenangkan sekali setiap berkunjung ke pasar kaget ini, selain harga-harganya yang miring, para pedagangnya pun mahir berbahasa Indonesia, yang apabila kita menawar dengan harga jauh lebih rendah lagi mereka akan berkata "haram", "rugi" atau "tidak bisa makan".

Suasana pasar malam selepas Isya

Hari ini rencananya saya dan teman-teman sekamar akan kembali bertolak ke Masjidil Haram untuk mencium batu Hajar Aswad, batu yang diturunkan Allah dari Surga, batu yang dipercaya yang awal diturunkan berwarna putih hingga kini berubah menjadi hitam. Kami berangkat pukul 10:00 pagi dan sudah berpakaian ihram, karena masih pagi jamaah pun banyak sekali yang melakukan tawaf, untuk bisa mencapai Hajar Aswad tidak ada tata caranya, hanya saja kita tetap masuk melalui arah jamaah memulai Tawaf. Karena kami pergi bersama suami teman sekamar saya, beliau memiliki postur tinggi dan besar sehingga bisa membantu kami mengawal dan memberi jalan menuju Hajar Aswad, Alhamdulillah Allah memberi kami kemudahan meski jamaah banyak sekali saling dorong, kami berhasil mencium Hajar Aswad, rasanya campur aduk, senang sekaligus menangis karena teringat berbagai kejadian yang pernah terjadi dalam hidup saya, sungguh mengharukan. Kami kembali ke hotel selepas Dzuhur kemudian kembali lagi untuk Shalat Magrib dan Isya.

- Day eight
Hari ini adalah hari terakhir kami di Mekah. Tidak tahu kenapa rasanya sedikit sedih karena saya akan segera pulang ke Indonesia, bukan berarti tidak senang akan bertemu kembali dengan keluarga tetapi saya akan sangat merindukan suasana di Madina dan Mekah, rindu shalat di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, rindu Ka'bah, rindu menunggu, berebut dan berdesak-desakan di bis, rindu air zam-zam yang bisa didapatkan dengan mudah dimana-mana, rindu pasar kaget, rindu makan pagi, siang dan malam di hotel meski terkadang nasinya masih aron (belum matang), rindu bangunan kubus dan baloknya, rindu gunung-gunung bebatuan, rindu mengobrol dengan jamaah dari berbagai negara, ah rindu segala-galanya.

Sebelum meninggalkan hotel menuju Jeddah

Sebelum check out pukul 14:00 siang, pagi harinya kami pergi melakukan tawaf wada, yang berarti tawaf perpisahan sembari mengelilingi Ka'bah kami semua berharap pada suatu hari kami dapat kembali lagi ke tanah suci Mekah. Kemudian kami menuju kembali ke bandara King Abdul Aziz di Jeddah. Waktu perjalanan dari Mekah ke Jeddah hanya dua jam, sebelum pergi ke bandara kami dibawa ke pusat perbelanjaan terkenal yang berada di Jeddah, yaitu Corniche Commercial Center untuk membeli oleh-oleh, letaknya dekat sekali dengan bandara King Abdul Aziz (sekitar 15 menit).  Sebelum tiba di Corniche, kami melewati Masjid Qisas, Masjid yang dulu biasa digunakan oleh bangsa Arab untuk mengeksekusi mati atau hukuman pancung dengan cara memenggal kepala (peraturan tersebut sekarang sudah tidak berlaku). Pemenggalan kepala biasanya dilakukan setelah Shalat Jum'at dan di tempat terbuka. Qisas sendiri adalah prinsip hukum dimana mensyaratkan hukuman dengan pembalasan yang setara. Sekilas, Masjid ini tidak terlihat menyeramkan tetapi dari sejarahnya sangat menyeramkan. Tiba di Corniche kami langsung berkeliling, Toko yang paling terkenal di Corniche adalah "Toko Ali Murah", mau cari apapun di Toko ini semua pasti ada, seperti Toserba, harganyapun standar.

Salah satu jajanan di Corniche yang menyediakan "Pop Me" bukan "Pop Mie"

Setelah berkeliling berbelanja, kami menemukan Bakso Mang Oedin yang terkenal dari Bandung itu, untuk satu porsi bakso harganya 14 riyal (kalau dirupiahkan sekitar 75 ribu, harga yang fantastis untuk seporsi bakso, bukan? jika di Indonesia saya sudah dapat 7 porsi) karena sudah hampir 10 hari tidak makan makanan khas Indonesia, akhirnya kami mencicipi bakso mang Oedin tersebut, untuk rasa, masih kalah jauh dengan bakso di tanah air (menurut saya baksonya lebih ke arah baslok alias bakso cilok kalau di Indonesia).

Bakso mang Oedin dari Bandung yang melegenda di Corniche

Setelah puas berbelanja dan mengisi bahan bakar perut kamipun melanjutkan perjalanan menuju bandara pukul 20:00 malam, pesawat Garuda membawa kami pulang ke Indonesia pukul 01:00 malam waktu Arab Saudi dan tiba di tanah air pukul 15.30 sore waktu Tangerang.
Perjalanan spiritual yang melelahkan namun amat sangat menyenangkan, semoga suatu hari saya bisa kembali ke sana, Amin Yaa Robbal Alamin.

Berfoto setelah menjamak shalat Maghrib dan Isya di Corniche sebelum akhirnya menuju bandara untuk pulang kembali ke tanah air


-A-