Minggu, 19 Februari 2017

A Monster Calls


"Because human are complicated beasts", the monster said.

Saya senang sekali menonton film, apalagi jika film itu diadaptasi dari sebuah novel. Saya tidak terlalu banyak ber-ekspektasi mengenai novel yang divisualkan dalam sebuah film, karena mungkin akan banyak perbedaannya, dan akan lebih mengecewakan jika imajinasi yang sudah dibuat dalam pikiran kita berbeda jauh dengan kenyataan filmnya. Banyak sekali film yang diangkat dari sebuah novel, contohnya saja yang paling terkenal Harry Potter karangan Rowling, Lord of the Ring dan The Hobbit karya JRR Tolkien, Hunger Games karya Suzanne Collins dan masih banyak lagi. Ini kali pertama saya mereview film dan meresensi buku dengan judul yang sama, 'A Monster Calls'. Sayangnya film ini tidak mendapatkan nominasi di ajang ajang penghargaan film bergengsi padahal menurut saya efek visual, akting dari pemain dan pesan film dapat disampaikan dengan baik kepada penonton. Awalnya saya menonton trailer dan membaca sinopsisnya secara tidak sengaja. Dilihat dari judulnya saya fikir ini film bergenre horor karena saya bukan tipe penonton yang menyukai film horor atau hantu-hantuan sejenisnya. Tetapi setelah menonton filmnya saya dibuat terpukau oleh pemeran utamanya yaitu Lewis Macdougall. Filmnya jauh dari ekspektasi, jauh dari yang berbau hantu-hantuan. film ini banyak bercerita tentang kehidupan dan keluarga (dan emosi pastinya). Tidak tahu kenapa saya selalu menyukai film yang selalu membahas tentang hubungan seorang anak dengan seorang ibu atau ayah dengan segala permasalahannya. Connor O' Malley anak 13 tahun yang hidup dengan ibunya yang sakit-sakitan seringkali bermimpi buruk, selalu didatangi monster pohon yew yang tumbuh di belakang rumahnya. Sang monster berjanji pada Connor bahwa ia akan datang setiap malam tepat pada pukul 12.07 untuk menceritakan dongeng sebanyak 3 kali berturut turut, dan pada malam terakhir si Monster meminta Connor untuk menceritakan dongeng yang ke 4, tentang kebenaran. Connor mengira bahwa kedatangan si Monster adalah untuk menyembuhkan ibunya yang sakit atau untuk menolong dirinya saat dia di bully oleh Harry cs di sekolahnya atau untuk menyingkirkan neneknya yang tidak disukainya, tetapi si Monster justru merasa bukan dirinya yang ingin datang kepada Connor, melainkan Connor lah yang memanggil si Monster datang. Saya sangat kagum dengan akting Lewis Macdougall yang baru berumur 14 tahun dan juga aktris Felicity Jones yang memerankan sang Ibu yang sedang sekarat. Lewis merupakan aktor pendatang baru, ini kali kedua dia bermain film, sebelumnya dia juga pernah bermain film berjudul Pan (2015). Dia begitu menjiwai seorang Connor O' Malley, anak yang mandiri tetapi juga penuh misteri dibalik kemandiriannya, ditambah dengan dubbing si Monster yang pas sekali diisi oleh suara khas aktor kawakan Liam Neeson. Film ini dibuat dengan teknologi CGI, terlihat sekali dengan efek visual sang Monster, seem so natural. Selain itu yang membuat saya semakin menyukai film ini yaitu original soundtracknya dinyanyikan oleh band keren, Keane (oh I mean, where have they been all this time?) dengan judul Tear Up This Town, seolah-olah menggambarkan kemarahan Connor akan amarah yang selalu dia pendam. Setelah menonton filmnya yang cukup menguras emosi (I'm crying out loud hehe), saya jadi tertarik mencari novelnya. Novelnya merupakan novel best seller karya Patrick Ness berdasarkan ide Siobhan Dowd. Bukunya tipis sekali hanya 216 halaman, tidak seperti buku fantasi lainnya, sehingga saya bisa menyelesaikannya dalam waktu semalam saja. Rasa penasaran saya terobati, bukunya hampir sama ilustrasinya dengan filmnya. Banyak pesan positif yang bisa diambil, seperti manusia tidak ada yang hitam putih melainkan abu-abu. Kadang jahat, kadang baik, kadang terlihat jahat walau sebenarnya baik dan kadang terlihat baik walau sebenarnya jahat. Dengan membacanya kita bisa belajar tentang cinta, harapan, kehilangan dan ikhlas. Sangat rekomen dan cocok untuk semua umur walaupun judulnya menyeramkan tetapi isinya sangat tidak semenyeramkan yang dipikirkan, seperti kata pepatah pada umumnya, "don't judge a book by its cover". Terakhir saya akan memberikan rating bintang 4.5 dari 5 untuk buku dan filmnya.
Semoga bermanfaat.

#reviewfilm #resensibuku #amonstercalls
#abaikanbagiyangtidaksuka

-A-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar